logo.png

Wali Kota Kediri Gelontorkan Rp 50 Juta per RT Begini Hasilnya


DetikNews

Yudhistira Amran Saleh - detikNews

Jakarta - Menata kota membutuhkan inovasi. Ada upaya 'wah', ada yang terlihat sederhana. Seperti di Kota Kediri, Rukun Tetangga (RT) digelontor dana Rp 50 juta agar pembangunan lebih cepat. Bagaimana hasilnya?

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengaku tidak ingin membangun dari pusat kota. Sebaliknya ia fokus pada kampung. Maka itu, RT jadi objek sekaligus subjek. Dalam setahun, dana Rp 75 miliar digelontorkan untuk 1.436 RT.

"Semuanya membangun. Penataan dan pendirian fasilitas umum diambil dari situ," kata Abu, panggilan akrab Abdullah Abu Bakar, saat bertandang ke kantor detikcom di kawasan Buncit, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Abu mampir ke kantor detikcom setelah mengikuti acara koordinasi pemerintah daerah se-Indonesia di Istana Negara Jakarta. Dengan hanya ditemani seorang staf, ia bercerita banyak tentang Kota Kediri dan perubahan-perubahan yang telah dan akan terjadi.

Abu mengatakan bertahun-tahun RT tidak disentuh. Tak heran, kondisinya memprihatinkan. Jalan-jalan rusak, penerangan minim, dan fasilitas umum tidak tersedia. Dengan uang Rp 50 juta yang diberikan sejak setahun lalu, pihak RT merencanakan dan menyelesaikan sendiri masalah yang paling krusial.

"Selain pembangunan fisik, dana itu juga digunakan kegiatan sosial seperti les bahasa Inggris, les mengaji, atau siswa kurang mampu," ungkap wali kota yang dilantik pada April 2014 lalu dan diusung PAN-Gerindra ini.


 

Wali Kota Abdullah Abu Bakar mengecek pembangunan di RT (Foto: Dok Pemkot Kediri)


Abu mengatakan program ini merupakan upaya membuat warga merasakan kucuran APBD secara langsung. Saat ini, lurah di Kota Kediri bisa berjalan gagah. Mereka tidak khawatir melintas di gang-gang kecil karena ditagih warga soal pembangunan ini-itu.

"Sekarang tanggung jawabnya (pembangunan) ada di Pak RT," kata wali kota yang dilantik pada April 2014 lalu ini.

Selain kampung atau RT, Abu mulai memikirkan penataan ulang ruang publik. Bagi pria 35 tahun ini, waktu 5 tahun tak terlampau lama. Untuk itu, ia memprioritaskan hal-hal utama. Bukan sesuatu yang monumental, melainkan yang berguna bagi warga. Sederhana tapi mengena, mungkin begitu istilah pendeknya.
(yds/try)


Sumber : news.detik.com