logo.png

Antisipasi Banjir Walikota Prakarsai Gerakan Bersih-Bersih Got


 

 Minggu, 01 Nopember 2015 12:08:57
Reporter : Nanang Masyhari

Antisipasi Banjir, Walikota Prakarsai Gerakan Bersih-Bersih Got

Kediri (beritajatim.com) -- Lebih dari 100 kepala keluarga (KK) yang tinggal di bibir Sungai Kresek Kota Kediri langganan banjir. Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar mengajak masyarakatnya melakukan kerja bakti membersihkan selokan, sungai dan saluran setiap tiga bulan sekali.

"Kegiatan ini adalah rutin seluruh masyarakat Kota Kediri. Dilakukan per tiga bulan. Diwajibkan membersihkan got, sungai, saluran air seperti sekarang ini di sekitarnya Lingkungan Ngaglik, Kelurahan Dandangan. Kita sedang membersihkan Sungai Kresek secara bersama-sama," ujar Abdullah Abu Bakar, Minggu (01/11/2015)

Mas Abu, panggilan Abdullah Abu Bakar ikut kerja bakti bersama warga. Mereka membersihkan Sungai Kresek yang menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Sungai yang mengalir melintasi permukiman warga ini telah mengalami sedimentasi. Bukan hanya material tanah yang menumpuk, tetapi juga sampah.

Awal tahun lalu, Sungai Kresek telah dikeruk. Tetapi karena perilaku buruk masyarakat yang membuang sampah sembarangan, menyebabkan aliran sungai tersumbat. Terlebih di sekitar Pasar Ngadisimo. Dengan seenaknya, warga melemparkan sampah ke dalam sungai. Tidak hanya itu, masyarakat yang bermukim disana juga sering melakukan tindakan sama.

Manto, selaku tokoh warga Lingkungan Ngaglik mengaku, luapan Sungai Kresek saat banjir meluber hingga masuk ke permukiman warga. Lebih dari 100 KK rumahnya kebanjiran saat musim hujan tiba. 

"Kalau turun hujan pasti banjir. Lokasi paling parah ada di RT 3 dan RT 4," sahut Totok, warga RT 4 yang juga ikut dalam kerja bakti membersihkan Sungai Kresek.

Dalam kerja bakti tersebut, ribuan kantong berisi sampah dari Sungai Kresek dikeluarkan. Sampah kemudian diangkut menggunakan mobil Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP). Memang, selain melibatkan warga setempat ada ratusan tenaga kebersihan dari DKP juga dikerahkan.

Sebenarnya, masalah banjir di Lingkungan Ngaglik bukan hanya karena pendangkalan Sungai Kresek oleh sampah. Tetapi juga diakibatkan lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang jauh. Sehingga, meskipun ada petugas sampah yang keliling, tetapi ada sebagian masyarakat yang ogah-ogahan pergi ke TPS.

"DKP hanya sekedar membantu saja. Yang terlibat dalam kegiatan ini adalah warga. Dan sosialisasi agar gerakan ini berhasil ya seperti ini, dengan terjun langsung," ucap Mas Abu disela-sela berkomunikasi dengan warga.

Diungkapkan Mas Abu, Pemkot Kediri telah membuat peraturan daerah (perda) tentang sampah. Dimana, dalam perda tersebut ada klausul sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Sanksi berupa denda Rp 200 ribu atau menyapu jalanan. Sementara aplikasi dari perda tersebut dilakukan oleh pasukan kebersihan yang berasal dari relawan

Tugas dari relawan adalah melakukan tindakan preventif dan preentip terhadap warga yang membuang sampah sembarangan. Relawan tidak segan-segan menangkap mereka yang berperilaku buruk terhadap lingkungan. Sementara bagi warga yang tertangkap, dapat dikenaik denda maupun sanksi.

Gerakan bersih-bersih selokan, got dan saluran tersebut serentak digelar di seluruh Kota Kediri. Masyarakat di 46 kelurahan bekerja bakti bersam-sama. Tidak hanya got dan saluran mereka juga membersihkan trotoar dan tepi jalan dari sampah dan rumput liar. (nng/kun)


Sumber : beritajatim.com