logo.png

TPID Optimistis Inflasi di Kediri Dapat Ditekan


ANTARA News Jawa Timur

 
 "Saya melihat lebih optimistis. Dari sisi permintaan daya beli melemah terkait ekonomi melambat, pasokan juga cukup tidak ada pergerakan harga yang diatur pemerintah (misalnya bensin, solar). Nuansanya lebih positif,"
 
Kediri (Antara Jatim) - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Jawa Timur, optimistis inflasi di Kota Kediri, Jawa Timur, dapat ditekan, bahkan di bawah sasaran inflasi nasional.
     
"Saya melihat lebih optimistis. Dari sisi permintaan daya beli melemah terkait ekonomi melambat, pasokan juga cukup tidak ada pergerakan harga yang diatur pemerintah (misalnya bensin, solar). Nuansanya lebih positif," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri Djoko Raharto di Kediri, Rabu.
     
Dari hasil pemantauan, saat ini perkembangan harga-harga di Kota Kediri pada November 2015 terjaga dengan baik. Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya mengalami inflasi 0,11 persen (mtm) atau 3,45 persen (yoy), terutama bersumber pada kenaikan inflasi inti. Dengan demikian, inflasi IHK Kota Kediri selama Januari – November 2015 tercatat sebesar 0,91 persen (ytd), terendah di Jawa.
     
Pihaknya mengungkapkan, terjaganya inflasi Kota Kediri pada November 2015 tidak lepas dari terkendalinya harga LPG kemasan 3 kg di tingkat konsumen. Tambahan fakultatif sebesar 50 persen dari kuota harian yang didistribusikan sejak tanggal 25 sampai dengan 28 November 2015 tersebut dinilai efektif menurunkan harga LPG 3 kilogram lebih baik.
     
Harga tabung elpiji ukuran 3 kilogram di tingkat agen adalah Rp13.000,00 hingga Rp13.500,00. Harga itu sudah ditetapkan oleh pemerintah. Masyarakat juga dapat membeli dengan mudah tabung elpiji, sebab stok saat ini mencukupi. 
     
Selain itu, harga beras juga cenderung mengalami penurunan. Pada November 2015, dari hasil evaluasi, ternyata harga beras tersebut mampu menahan inflasi hingga 0,07 persen. 
     
Tim juga sudah melakukan evaluasi ke lapangan langsung. Pelaku usaha di Kota Kediri mengonfirmasi bahwa pasokan beras pada bulan November relatif lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya. Pasokan tersebut berasal dari daerah Prambon (Kabupaten Nganjuk), Kabupaten Kediri, dan Kabupaten Tulungagung. 
     
Memasuki Desember 2015, TPID Kota Kediri juga akan melaksanakan beberapa kegiatan antara lain melakukan kunjungan ke pasar dan distributor, pengendalian ekspektasi masyarakat, dan melaksanakan operasi pasar murni untuk beberapa komoditas terpilih, seperti beras, gula pasir, telur ayam ras dan minyak goreng.
     
Dengan mempertimbangkan perkembangan harga terkini serta berbagai faktor risiko yang ada, TPID Kota Kediri yakin hingga akhir tahun 2015 inflasi Kota Kediri dapat terjaga pada level yang rendah dan stabil dan akan berada di bawah 2,0 persen, dengan kecenderungan bias ke bawah. 
     
"Kami juga kunjungan ke lapangan, selanjutnya aksi apa yang harus dilakukan menekan inflasi," kata Djoko. 
 
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar berharap adanya sinergi di antara seluruh lembaga di Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk bersama-sama mencari solusi guna menekan inflasi, terutama mendekati pergantian tahun dari 2015 ke 2016. Selain ada pergantian tahun, konsumsi masyarakat juga tinggi sebab juga bersamaan dengan libur akhir tahun maupun Natal. 
     
Ia yakin dengan koordinasi yang baik di seluruh instansi yang berada di bawah TPID Kota Kediri, mampu menekan inflasi serendah mungkin. Ia pun juga sudah meminta agar instansi sigap, membuat beragam kebijakan misalnya operasi pasar jika harga bahan pokok tinggi.  
     
"Inflasi di Kediri rendah, dan ini karena ada kerja sama yang sistematis. Tim TPID juga sering mengadakan pertemuan tim pengendali inflasi secara rutin dan membahasnya secara mendetail," kata Wali Kota Abdullah. (*)

Sumber : antarajatim.com