logo.png

Bawang Merah Picu Inflasi di Kediri


ANTARA News Jawa Timur

 
 "Komoditas bawang merah sangat berpengaruh pada inflasi. Ini kemungkinan karena pengaruh hujan, jadi bawang merah harganya naik,"
 
Kediri (Antara Jatim) -  Harga bawang merah yang mahal  berpengaruh pada inflasi di Kediri, Jawa Timur, pada Desember 2015 hingga 0,79 persen jauh dibanding inflasi pada November 2015 yang hanya 0,11 persen.  
     
"Komoditas bawang merah sangat berpengaruh pada inflasi. Ini kemungkinan karena pengaruh hujan, jadi bawang merah harganya naik," kata Kepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kediri Lulus Haryono di Kediri, Senin.
     
Harga bawang merah saat Desember di sejumlah pasar tradisional di Kota Kediri bisa mencapai angka Rp40 ribu per kilogram, jauh ketimbang harga normalnya yang berkisar Rp20 ribu per kilogram. 
     
Selain harga bawang merah yang memicu tingginya inflasi di Kediri, Lulus juga mengatakan kenaikan sejumlah komoditas lainnya juga memicu tingginya inflasi. Saat pergantian tahun, tingkat konsumsi masyarakat cukup tinggi, sehingga juga berpengaruh pada tingginya harga bahan pokok.
     
"Kenaikan juga dipengaruhi karena adanya Natal dan tahun baru, jadi permintaan misalnya telur dan beras tinggi," ujarnya.  
     
Menurut dia, inflasi di Kota Kediri dipengaruhi oleh kenaikan maupun penurunan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran. 
 
Kenaikan indeks terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 3,34 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,61 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,46 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,03 persen, dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen. 
     
Sementara itu penurunan terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,11 persen dan kelompok sandang sebesar 0,10 persen.
     
Komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi di Kota Kediri pada Desember 2015 adalah bawang merah, telur ayam ras, daging Ayam ras, rokok kretek filter, cabai merah, kelapa, bawang putih, tarif listrik, sampai rokok kretek, serta beras. 
     
Sedangkan, komoditas yang memberikan tekanan terbesar terhadap inflasi di Kota Kediri pada Desember 2015 adalah bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, Ssalak, pir, emas perhiasan, bensin, pasir, jagung muda, bayam, dan terong panjang.     
Walaupun mengalami inflasi, Lulus mengatakan pemerintah kota dengan tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Kediri telah berupaya dengan maksimal dengan berbagai program untuk menekan kenaikan harga.
     
"TPID cukup efektif menekan inflasi. Di Kediri, termasuk rendah," ujarnya.
     
Untuk inflasi di Januari, BPS saat ini masih melakukan survei dan hasilnya baru bisa diketahui awal Februari 2016. BPS belum bisa memperkirakan, sebab harus menunggu angka pasti dari penghitungan harga berbagai komoditas. 
     
Sementara itu, dari delapan kota IHK di Jawa Timur, seluruh kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi di Surabaya sebesar 0,94 persen, Malang 0,89 persen, Banyuwangi 0,80 persen, Kediri 0,79 persen, Sumenep 0,77 persen, Madiun 0,59 persen, Probolinggo 0,41 persen, dan Jember 0,39 persen. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


Sumber : antarajatim.com