logo.png

Tren Pemeriksaan IVA Sebagai Antisipasi Serangan Kanker Serviks di Kediri Meningkat


ANTARA News Jawa Timur

 
 "Di Kediri tren naik dan yang paling tinggi sementara kanker serviks," 
 

Kediri, (Antara Jatim) - Perempuan yang memeriksakan diri dengan sistem Inveksi Visualisasi Asetat (IVA) atau kolposkopi guna mengantisipasi penyakit kanker serviks di Kota Kediri, Jawa Timur, cenderung meningkat sehingga bisa dilakukan penanganan secara dini penyakit tersebut.

"Di Kediri tren naik dan yang paling tinggi sementara kanker serviks," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Sentot Imam Suprapto dalam rangkaian peringatan Hari Kanker Sedunia di Kediri, Kamis.

Dari data yang dilaporkan, untuk pemeriksaan IVA pada 2014 dari laporan sembilan puskesmas di Kota Kediri hanya 856 orang dan yang positif hanya satu. Sementara pada 2015 jumlah perempuan yang telah memeriksakan diri mencapai 1.278 dengan IVA positif mencapai 23 orang.

Ia mengatakan, pasien yang memeriksakan diri diketahui berusia antara 45-55 tahun. Namun sebenarnya perempuan yang berusia subur di atas 30 tahun dan sebelumnya pernah melakukan hubungan seksual dianjurkan segera memeriksakan diri.

Selama ini ancaman kanker serviks masih cukup besar. Pemerintah pun giat melakukan berbagai upaya promotif, preventif agar pasien mau melakukan pemeriksaan dini atau lebih awal. Dengan itu harapan hidup akan lebih panjang.

"Kami lakukan pengobatan, penanganan lebih awal agar harapan hidup lebih panjang," ujarnya.

Untuk mengetahui perempuan itu sedang sakit atau tidak, Sentot mengatakan sebenarnya ada beberapa hal gejala yang harus diwaspadai, misalnya saat berhubungan dengan suami mengalami pendarahan, menstruasi berlebihan hingga di luar waktu menstruasi, ataupun keluar darah setelah masa menopause.

Sementara itu, istri Wali Kota Kediri Ferry Silviana Feronica mengatakan, perempuan harus sadar dan tidak boleh takut untuk memeriksakan diri sebab kanker serviks adalah salah satu penyakit kanker yang bisa disembuhkan.

"Jangan takut periksakan diri, agar segera tertangani. Selama ini, stigma di masyarakat masih malu ataupun takut, karena takut diperiksa ataupun takut jika terdeteksi kanker, padahal jika ketahuan bisa diobati dan bisa sembuh," katanya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia.

Di Indonesia, setiap tahunnya terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks, dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian.

Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita kanker serviks tertinggi di dunia. Kanker ini muncul seperti musuh dalam selimut. Sulit sekali dideteksi hingga penyakit telah mencapai stadium lanjut.(*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


Sumber : antarajatim.com