logo.png

Jika Kuburan Jadi Tempat Pacaran


Radar Kediri | Berita Kediri | Berita Utama

warung bong

Bukannya mal atau bioskop, sebagian remaja di Kediri justru lebih suka ‘nge-date’ di kuburan. Lihat saja setiap malam Minggu di kompleks makam Tionghoa alias ‘Bong China’, lereng Gunung Klotok.

Lokasinya masuk Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Sekilas terlihat sepi walau ada sejumlah lampu penerangan yang menyinari. Maklum, itu memang kompleks kuburan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda.Setidaknya, ini terlihat dari batu-batu nisan lawas yang terdapat di sana. Tahun kematian jenazah di dalamnya ada yang 1930-an dan 1940-an.
Tapi, jika mau menelisik lebih jeli, ada sejumlah titik keramaian di baliknya. Terutama di warung-warung yang terdapat di sana. Motor-motor terparkir rapi. Pemiliknya ada yang cangkrukan di warung. Tapi, tak sedikit pula yang menyebar di antara bangunan-bangunan beton makam. Itu akan berlangsung hingga menjelang pagi.
Siangnya pun sama. Mereka adalah muda-mudi. Salah satunya Nad, 16, remaja putri asal Kelurahan/Kecamatan Mojoroto. Ia mengaku sering cangkrukan di Bong China. Tidak sendirian, perempuan berambut sebahu tersebut datang bersama teman-temannya. “Biasanya dua kali seminggu ke sini,” akunya.
Tidak hanya siang, tapi juga malam. Khususnya malam Minggu. Nad dan teman-teman perempuannya datang bersama teman lelaki. Di warung-warung dalam kompleks makam itulah mereka menghabiskan malamnya. “Karena teman-teman pada ngajak ke sini,” sebutnya tentang alasan pemilihan lokasi ngedate itu.
Tapi, sebenarnya, itu hanya salah satu alternatif pilihan. Sebab, ia juga sering nongkrong di tempat-tempat lain. “Nggak selalu di sini, kadang di GOR, kadang ya ke mal,” katanya. Namun, dia mengelak melakukan hal-hal terlarang selama di sana. “Ya cuma ngobrol-ngobrol sambil ngopi,” kelit perempuan yang sudah keluar dari sekolahnya itu.
Benarkah? Kasubbag Humas Polres Kediri Kota AKP Anwar Iskandar mengatakan, kawasan Bong China merupakan salah satu lokasi yang rawan tindak kejahatan. Bukan hanya untuk nongkrong, di sana sering menjadi tempat melakukan hal-hal terlarang. Seperti pacaran hingga berbuat mesum, mabuk-mabukan, hingga transaksi obat keras dan narkotika. “Banyak yang masih bersekolah,” katanya.
Seperti temuan terbaru, 23 Februari siang lalu. Delapan remaja yang sebagian besar masih di bawah umur ditemukan menyimpan sebotol arak Jawa. Saat diperiksa, dua di antaranya adalah siswa yang membolos sekolah.
Diduga, kawasan itu menjadi menjadi tempat favorit anak-anak muda karena cukup terpencil dan sepi. Makanya banyak aktivitas terlarang yang dilakukan di sana. “Tempatnya tidak cukup terpantau oleh masyarakat umum,” terang Anwar.
Meski demikian, saat ini, angka kriminalitas di sana sudah menurun pasca ditangkapnya Adi Kristianto alias Jepang, 23, Januari 2015 lalu. Kalaupun ada temuan aktivitas terlarang, tidak cukup bukti untuk dipidanakan.
Walau demikian, polisi terus mengintensifkan patroli untuk mengantisipasi. Namun, masyarakat dan orang tua juga diharapkan ikut mendukung. “Harus ada kontrol bersama,” harap Anwar. (dna/hid)


Sumber : radarkediri.net