logo.png

Semangat Tak Ciut meski Pernah Diusir saat Beber Buku


Radar Kediri | Berita Kediri | Berita Utama

14-boks (1)

Minat baca masyarakat yang terdegradasi membuat hati Siti Hani’ah sedih. Makanya lulusan Paket C ini tergerak untuk membentuk taman bacaan masyarakat (TBM). Dia rela keliling agar masyarakat gemar membaca. Seperti apa perjuangannya?

Suasana kawasan Gunung Klothok pukul 08.00 WIB tampak ramai. Maklum, hari Minggu (13/3) memang membuat jalanan jalur wisata di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu dipadati pengunjung. Ada yang bersepeda, joging, atau sekadar bercengkerama dengan keluarga.

Puluhan kendaraan roda dua terparkir di bahu jalan. Para pedagang kaki lima (PKL) pun terlihat berjajar di antara kendaraan-kendaraan tersebut. Namun pemandangan berbeda terlihat di samping sirkuit motocross Brigif 16 Wirayuda.

Tidak seperti beberapa pedagang yang dikerumuni para pembeli. Di salah satu bangku dari cor-coran semen terdapat deretan buku yang ditata sedemikian rupa. Ada buku anak-anak, ada pula buka masak-memasak.

“Ini tidak untuk dijual, tapi dibaca pengunjung sini gratis,” terang Siti Hani’ah, ketua taman bacaan masyarakat (TBM) Al Madinah kepada Jawa Pos Radar Kediri yang menemuinya.

Ada sekitar 150 buku yang dibawa Siti Hani’ah. Tempat itu tampak dikelilingi orang-orang. Mereka tertarik membuka-buka buku itu. Ada yang berdiri, ada yang duduk di sekitarnya. Ada anak, remaja, ada pula ibu-ibu yang membimbing anaknya membaca buku cerita bergambar.

“Baru dua kali kami singgah di kawasan Klothok ini,” tambah perempuan yang biasa dipanggil Hani tersebut.

TBM yang diasuh Hani sebenarnya berada di rumahnya, Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto. Hanya saja, istri Abdurrahman ini tidak sabar jika harus menunggu pengunjung datang ke tempatnya. Makanya sejak terbentuk sebulan lalu, Hani memutuskan melakukannya dengan berkeliling.

“Sudah empat kali singgah, dua kali di Klothok, GOR Jayabaya, dan Jalan Dhoho,” terang perempuan 30 tahun tersebut.

Saat suasana sekitar Klothok agak sepi, salah satu pedagang es mendatangi TBM. Perempuan berkerudung merah muda itu meminjam buku, kemudian ia bawa ke dekat gerobak esnya untuk dibaca.

“Memang di sini siapa saja bebas meminjam, tidak ada prioritas umur atau profesi khusus,” tambah Hani yang asli Blitar tersebut.

Meski hanya lulusan paket C, Hani merasa membaca sangatlah penting. Makanya dengan dukungan suami, ia berhasil membangun sekolah dengan modal nekat. Perempuan yang sebelumnya mondok di Ponpes Nurul Hakim, Blitar, ini semakin bersemangat mengembangkan TBM.

“Saya ingin masyarakat semakin gemar membaca karena sangat penting,” papar ibu dua anak tersebut.

Selama ini, Hani banyak menjumpai para ibu hanya bergosip saat berkumpul. Anak-anak kecil pun lebih senang bermain playstation (PS) daripada pegang buku. Makanya berbekal dari koleksi pribadi yang hanya 500 buku, Hani dan suaminya sepakat menambah jumlah buku untuk dibaca masyarakat.

“Alhamdulillah sekarang koleksi buku sudah ada sekitar 1.500 buku,” tambah perempuan yang kala itu berkerudung kuning.

Itu setelah TBM Al Madinah mendapat bantuan dari perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim maupun Kota Kediri. Tidak hanya itu, bersama pengurus yang lain, Hani berkomitmen terus menambah koleksi buku setiap minggunya.

Memang untuk mengurus TBM, Hani tidak sendiri. Ada tiga rekan yang senantiasa membantu. Yakni Aliyanto, 37, asal Banjarmlati, Mojoroto; Ririn Sanusi, 30, asal Puhsarang, Semen; dan Elvi Saidah, 23, asal Desa Keniten, Mojo. Pasalnya, meski harus berkeliling belum ada alat yang memadai untuk melakukan moving.

Dengan bantuan Aliyanto, buku-buku tersebut hanya dimasukkan kardus dan dibawa menggunakan sepeda motor. Makanya tidak banyak buku yang bisa dibawa keliling setiap minggunya. Agar pembacanya tidak bosan, buku yang dibawa dibuat berbeda-beda dalam rentang waktu satu bulan.

“Biasanya hanya bisa bawa 150 buku saja,” sela Abdur, suami Hani, yang menemani istrinya berbincang dengan wartawan koran ini.

Saat berkeliling, kendalanya, tidak semua tempat bisa dijadikan tempat mangkal. Seperti Minggu (13/3) kemarin, rombongan kecil TBM harus tertolak dari Taman Ngronggo. Mereka diusir petugas karena masalah perizinan. Meski demikian, hal tersebut tidak membuatnya ciut dan patah semangat. Tapi justru dibuat bahan evaluasi untuk mempersiapkan segala sesuatunya lebih matang.

“Harus direncanakan lebih detail ke mana saja dan yang mana saja yang perlu diurus izinnya terlebih dahulu,” ungkapnya.

Meski masih baru terbentuk, Hani optimistis bisa melakukannya secara kontinyu. Harapannya, jumlah koleksi buku TBM semakin beragam. Sehingga semua kalangan bisa ter-cover kebutuhan membacanya. Selain itu, fasilitas pendukung pun diusahakan lebih baik lagi.

“Semakin layak fasilitasnya, semakin banyak bawa bukunya dan semakin banyak pembacanya,” pungkas Hani. (ndr)


Sumber : radarkediri.net