logo.png

Potensi Pendapatan Parkir Hilang


Radar Kediri | Berita Kediri | Berita Utama

15-parkir matahari

KEDIRI KOTA– Pemkot berupaya memacu realisasi target pendapatan asli daerah (PAD) dari pajak dan retribusi parkir. Selain menertibkan wajib pajak agar membayar tepat waktu, mereka juga meminimalisasi potensi pendapatan yang hilang.

Salah satu pemicu seretnya pendapatan adalah keberadaan juru parkir (jukir) tidak resmi di sekitar pusat perbelanjaan. Diakui atau tidak, pemkot harus berbagi pendapatan dengan para juru parkir (jukir) ini. Pasalnya, PAD sektor parkir dari tempat-tempat tersebut bisa dibilang tidak kecil.

Kabag Humas Pemkot Apip Permana mengakui, ada potensi pendapatan yang hilang. Sebab, banyak kendaraan pengunjung yang tidak di parkir di dalam mal. Mereka biasanya menggunakan jasa jukir tidak resmi, meskipun parkir di dalam belum penuh. “Akhirnya retribusi tidak masuk ke PAD,” ujarnya.

Mengenai persoalan tersebut, Apip menyatakan, pihaknya pernah membicarakan dengan pihak ketiga pengelola parkir. Dalam hari-hari tertentu, lokasi parkir liar begitu membeludak. Sehingga sampai menggunakan bahu jalan. Namun setelah dicek, parkir di dalam mal atau pusat perbelanjaan belum terisi semua. “Masih ada yang lowong, tetapi tidak diisi,” katanya.

Atas hal itu, pemkot meminta pusat perbelanjaan atau lokasi-lokasi lain bisa bekerjasama dengan jukir. Saat kondisi ramai, area parkir dalam mal harus diisi semua. Setelah benar-benar penuh, baru boleh diparkir di luar.

“Jadi jangan sampai belum penuh, tapi banyak yang parkir di luar,” ungkap Apip mewakili Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Ferry Djatmiko.

Selain bisa memaksimalkan pendapatan dari sektor pajak parkir, menurut Apip, hal itu dapat mengurangi risiko kemacetan. Sebab, biasanya yang digunakan untuk tempat parkir adalah bahu jalan. “Lalu-lintas lebih lancar,” ujar PNS asal Loceret, Nganjuk ini.

Sementara itu, meski mampu melampaui target, realisasi pendapatan pajak parkir belum menembus Rp 600 juta per tahun. Data dinas pendapatan (dispenda) menyebut, tahun lalu target pajak parkir sebesar Rp 515,881 juta. Sementara realisasinya Rp 515,898 juta. Itu berarti ada surplus sekitar Rp 17.000.

Adapun target 2016 justru turun menjadi Rp 432,705 juta. “Proyeksi tahun ini berdasarkan pencapaian pada 2014,” jelas Kepala Dispenda Hadi Wahjono.

Potensi pendapatan pajak diperoleh dari pengelolaan parkir oleh pihak ketiga di sejumlah pusat bisnis dan instansi. Di antaranya, di Kediri Mall, Kediri Town Square (Matahari), Ramayana, Plaza Dhoho, Golden, Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, RS Baptis, Stasiun Kereta Api (KA), Tirtayasa Park, dan Pagora. Hadi menyebut, berdasar UU No.6/2010 tentang Pajak Daerah, pemkot membebani pajak sebesar 30 persen dari omzet parkir di lokasi tersebut.

Sejauh ini, lanjut Hadi, Kediri Mall menjadi penyumbang pajak terbesar setiap tahunnya. Yakni rata-rata Rp 17 juta per bulan. Berikutnya adalah Matahari dengan 14 juta per bulan.

“Yang lain ada yang di atas Rp 1 juta dan di bawahnya,” ungkap mantan kepala dinas pekerjaan umum (DPU) ini.

Pada Februari lalu, Hadi mengatakan, Matahari sudah menyetor pajak parkir sebesar Rp 46 juta. Sedangkan Kediri Mall sekitar 23 juta.

Untuk pendapatan lain diperoleh dari retribusi parkir khusus. Itu berada di terminal dan area parkir wisata Gua Selomangleng. Untuk tempat parkir Terminal Tamanan yang dikelola dishubkominfo, tahun lalu, dari target Rp 60,76 juta mampu merealisasikan Rp 61,241 juta.

Sedangkan parkir di area Gua Selomangleng di bawah dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda, dan olaharaga (disbudparpora) mampu melebihi target. Yakni dari Rp 30 juta yang dipatok, realisasinya sebesar Rp 36,555 juta. (baz/ndr)


Sumber : radarkediri.net