logo.png

Pelajar di Kediri Bisa Naik Angkot Gratis


Tempo.Co

Pelajar di Kediri Bisa Naik Angkot Gratis  
Angkutan kota (angkot). ANTARA FOTO

TEMPO.COKediri – Dinas Perhubungan Kota Kediri memutuskan tak akan menurunkan tarif angkutan umum setelah penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagai gantinya, pemerintah membebaskan biaya angkutan pada jam keberangkatan dan kepulangan sekolah.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri Fery Djatmiko mengatakan penyesuaian tarif angkutan umum tak perlu dilakukan di kotanya. Tanpa penurunan tarif sekalipun, pengguna jasa angkutan umum sudah membayar di bawah ketentuan yang ditetapkan pemerintah. “Daya jangkau masyarakat kita memang rendah,” kata Fery kepada Tempo, Rabu, 6 April 2016.

Dia menjelaskan, selama ini tarif angkutan umum untuk penumpang umum ditetapkan Rp 4.000. Sedangkan untuk pelajar dipatok Rp 2.000. Kedua tarif tersebut dikenakan untuk jarak jauh dekat. 

Namun faktanya masyarakat umum hanya memberi ongkos sebesar Rp 3.000 saja kepada awak angkutan. Demikian pula untuk pelajar, tak pernah membayar lebih dari Rp 1.500 per kepala. Celakanya, kondisi ini tak bisa dilawan pemilik angkutan yang tetap bergantung pada masyarakat pengguna transportasi umum, yang rata-rata bekerja sebagai karyawan pabrik. 

Dengan penghasilan yang pas-pasan dan berbanding terbalik dengan biaya pemeliharaan dan perawatan mobil, tak sedikit pemilik angkutan yang menutup usaha. Mereka rata-rata mengeluhkan tingginya biaya perawatan mobil dengan harga suku cadang yang selangit. Hal ini berdampak pula pada makin sedikitnya jumlah angkutan umum yang beroperasi di Kota Kediri.

Atas kondisi ini, pemerintah Kota Kediri memberi subsidi pembelian bahan bakar minyak kepada pemilik angkutan umum sebesar enam liter per hari. Subsidi yang diberikan sejak tahun 2015 ini dimaksudkan untuk mempertahankan bisnis angkutan umum yang menjadi kebutuhan utama masyarakat, khususnya pelajar. Sebagai kompensasi atas pemberian subsidi tersebut, pemilik angkutan dilarang memungut ongkos sepeser pun kepada penumpang pelajar pada jam keberangkatan dan kepulangan sekolah, atau mulai pukul 05.30–07.00 WIB dan 12.00–14.00 WIB. 

“Angkot yang berhenti beroperasi di jam itu akan kami tarik subsidinya,” kata Fery.

Pemberian subsidi ini diklaim pemerintah telah menumbuhkan kembali bisnis angkutan umum yang nyaris gulung tikar. Dari jumlah 24 unit yang bertahan beroperasi selama ini, saat ini meningkat menjadi 40 unit angkutan umum di Kota Kediri. Para pemilik usaha mengaku sangat terbantu dengan subsidi BBM yang diberikan pemerintah sebesar enam liter per hari. “Bensin sejumlah itu cukup untuk membiayai operasional angkutan,” kata Ahmad Dian, salah satu pemilik angkutan kota.

Dia juga merespons positif sikap pemerintah yang tak akan melakukan penurunan tarif karena selama ini telah cukup 'berkorban' kepada masyarakat. Awak angkutan juga tak pernah menolak membawa penumpang meski membayar di bawah ketentuan yang ditetapkan. 


Sumber : bisnis.tempo.co