logo.png

Sekolah Sweeping Tas dan Laptop


Radar Kediri | Berita Kediri | Berita Utama

IMG_0977

Dinas pendidikan dan sekolah berupaya mencegah pelajar tak melanggar hukum. Salah satunya menggelar razia. Baik di dalam maupun luar sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri Siswanto mengatakan, tidak tinggal diam dengan kenakalan pelajar di luar sekolah. Makanya, dinas menginstruksikan jajarannya untuk merazia tempat-tempat yang rawan menjadi lokasi bolos.

“Selain satpol PP, kami juga merazia sendiri,” katanya dalam diskusi terbatas bertema, Terlibat Kejahatan atau Asusila, Haruskah Siswa Dikeluarkan dari Sekolah?, di Brantas Room, kantor Jawa Pos Radar Kediri, Sabtu (16/4) lalu.

Area yang paling sering jadi sasaran adalah warung di Bong Cina dan Lebaktumpang. Keduanya berada di kaki Gunung Klotok. Namun Siswanto mengakui, hasilnya kurang maksimal. “Kami jarang mendapat hasil. Tapi kalau satpol selalu ada yang terjaring,” ungkapnya.

Razia itu, menurut Siswanto, bukan untuk menakut-nakuti siswa. Justru dari kegiatan tersebut, pihaknya mengetahui siswa-siswa yang tidak mengikuti kegiatan belajar saat jam pelajaran berlangsung.

Apalagi biasanya mereka bolos ramai-ramai. Tidak hanya berasal dari satu sekolah, tetapi ada beberapa sekolah lain. Disdik mengkhawatirkan, mereka yang sering bolos menjurus ke perbuatan melanggar hukum. “Kalau ada pelanggaran, sekolah yang berhak memberikan sanksi,” ujar PNS yang pernah menjabat Sekretaris DPRD Kota Kediri ini.

Sanksi tersebut, lanjut Siswanto, tergantung jenis pelanggarannya. Setiap sekolah memiliki tata tertib (tatib) yang telah disepakati wali murid dan komite. Untuk pelanggaran tipe A tergolong berat. Misalnya narkoba. Sementara tipe B jenis penggaran sedang, seperti memalsu tanda tangan. Adapun tipe C termasuk ringan, seperti bolos atau terlambat.

Dari hasil penyelidikan polisi, Kanit PPA Polres Kediri Kota Aiptu Moh. Rofik mengungkapkan, mayoritas anak yang bermasalah dengan hukum (ABH) diawali karena sering bolos. Maka, ia menyarankan, sekolah bisa mengawasi anak didiknya yang jarang masuk sekolah. “Potensinya (bolos) sangat besar untuk melanggar hukum,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya berupaya kooperatif dengan ABH. Mereka yang masih sekolah biasanya hanya diminta wajib lapor sebanyak dua kali dalam seminggu.

Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 4 Kediri Nurhadi mengatakan, sekolahnya sering melakukan sweeping tas dan laptop anak didiknya di kelas. Pernah dalam sebuah razia, sekolah menyita sebanyak 135 judul film tidak senonoh atau porno. Ada yang berdurasi 7-8 menit. “Bahkan ada yang kami temukan sampai 2 jam durasinya,” ungkapnya.

Menurut Nurhadi, teknologi informasi sangat memengaruhi karakter siswa. Karena itu, dua tempat paling rawan untuk siswa bolos adalah warung internet (warnet) game online dan warung kopi.

Selain itu, lanjut dia, ABH biasanya berasal dari keluarga broken home. Mereka yang sering bolos biasanya tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya. “Anak-anak seperti ini lebih bebas,” katanya. (anwar bahar basalamah/ndr/bersambung)


Sumber : radarkediri.net