logo.png

Pemkot Kediri Apresiasi Cerita Panji Rencana Didaftarkan ke Unesco


ANTARA News Jawa Timur

   Pemkot Kediri Apresiasi Cerita Panji Rencana Didaftarkan ke Unesco
Kepala Disbudparpora Kota Kediri Nur Muhyar. (foto Asmaul Chusna)
 
 "Kami sebagai orang yang hidup, lahir dan sekarang tinggal dimana cerita Panji itu dulu ada, kami berkewajiban untuk lebih giat lagi, menggali dan melestarikan serta mengembangkan cerita Panji ini,"
 
Kediri (Antara Jatim) - Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur mengapresiasi rencana dari perpustakaan nasional (Perpusnas) yang berniat mendaftarkan menjadi warisan Unesco sebagai "Memory of the World" atau MOW.

"Kami sebagai orang yang hidup, lahir dan sekarang tinggal di mana cerita Panji itu dulu ada, kami berkewajiban untuk lebih giat lagi, menggali dan melestarikan serta mengembangkan cerita Panji ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan Parwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Kediri Nur Muhyar di Kediri, Selasa.

Ia mengaku pemerintah kota belum mendapatkan tembusan secara resmi terkait dengan rencana dari Perpusnas yang saat ini sedang menggalang dukungan untuk mendaftarkan cerita Panji ke Unesco tersebut.

Namun, ia menegaskan cerita Panji bukan hanya persolan dari daerah mana, sebab cerita panji berkembang dan banyak versi. Dari beragam versi itu, masing-masing mempunyai potongan, fragmen, misalnya, cerita Ande-ande Lumut, Yuyu Kangkang, maupun mbok rondo Dadapan, hingga pengembaraan Pangeran Inu Kencana.

Ia juga tidak mengklaim cerita Panji dari Kediri, namun di Kediri juga masuk dalam historis cerita Panji, yang ditelusuri dari berbagai peninggalannya, misalnya, Goa Selomangleng, Taman Sekartaji, hingga nama daerah di Kota Kediri.

"Cerita Panji itu kaya versi dan kaya fragmen, ada potongan tertentu, dan dari cerita besarnya ditampilkan potongan-potongan, tapi biasanya sama, hanya menggunakan dialeg yang beda, bahasa yang beda," ujar Nur.

Ia juga tidak meminta agar pusat mengirimkan surat resmi ke pemerintah kota terkait dengan informasi penggalangan dukungan agar cerita Panji menjadi warisan Unesco itu.

Ia pun menegaskan, secara dokumen pun masih belum terdokumentasi dengan maksimal. Saat ini, pemerintah kota masih berupaya untuk semaksimal mungkin mengumpulkan berbagai dokumen baik literatur maupun yang sifatnya cerita rakyat. 

"Karena ini cerita rakyat, secara data tentu minim. Namun, kami mulai merangkai dan juga ada penelitian dasar dan terus kami kembangkan. Jika dalam bentuk dokumen berupa benda ini agak beda. Yang pasti sejauh ini, kami merespon sebagai sesuatu yang positif," kata mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Kediri itu.

Perpusnas menggalang dukungan agar cerita Panji masuk dalam Unesco. Saat ini, Perpusnas sudah menyiapkan formulir untuk mengirimkan resmi usulan ini dan Unesco akan mengumumkan hasilnya pada pertengahan 2017.

Penasihat Perpusnas sekaligus mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro aktif melakukan rencana tersebut. Cerita Panji dimulai di abad ke-13 atau pada masa awal Kerajaan Majapahit.

Panji merupakan kisah tradisional Jawa Timur yang berasal dari abad ke-13 yang kemudian menyebar ke beberapa wilayah dan negara lain. Cerita itu melibatkan kisah percintaan antara Pangeran dari Daha dan satu dari Kediri. Yang laki-laki adalah Inu Kertapati dan yang perempuan Dewi Anggraeni dari Kediri.

Sejalan dengan berkembangnya Kerajaan Majapahit pada Abad ke-14 dan ke-15, Panji juga ikut tumbuh sehingga menyeberang ke Bali, Lombok, Kalimantan, dan ikut dibawa ke Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand.(*)

Sumber : antarajatim.com