logo.png

Sarasehan Potret Pendidikan Kota Kediri


Sarasehan Potret Pendidikan Kota Kediri

Pendidikan Dulu dan Sekarang, Mana Yang Baik?

Pendidikan memang menjadi perbincangan dan bahan diskusi yang tidak akan pernah ada habisnya.  Karena pada dasarnya, dunia pendidikan juga merupakan hal yang dinamis dan bisa berkembang seiring dengan kemajuan zaman.  Untuk melihat potret dunia pendidikan di Kota Kediri selama ini, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) perwakilan Kediri mengadakan sarasehan dengan tema besar dunia pendidikan, Kamis (19/5).

Sarasehan PendidikanSuasana di gedung PWI Kediri yang terletak di Jl Mayor Bismo Kelurahan Semampir Kecamatan Kota tak seperti biasanya.  Jika biasanya hanya diisi 1-3 motor, siang kemarin tempat parkir gedung tersebut dipenuhi motor dan mobil.  Di dalamnya pun bukan hanya ada para pemburu berita, namun juga diisi oleh mereka yang kerap dijadikan sumber berita.

Mereka adalah tiga orang yang sudah tidak perlu diragukan lagi kompetensinya di bidang pendidikan, yakni Ketua Dewan Pendidikan Kota Kediri, Atrub, Ketua Yayasan Pendidikan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (YPLP PT) Universitas Nusantara PGRI (UNP), Sugiyono, dan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri, Siswanto.  Ketiga orang yang berpengaruh besar dalam dunia pendidikan di Kota Kediri ini sengaja diundang oleh PWI untuk memaparkan pandangan mereka terhadap pendidikan yang ada di Kota Kediri.

Sugiyono menyampaikan, dalam pandangannya, jika dibandingkan dengan 1-3 dekade silam, dunia pendidikan memang sudah banyak mengalami perubahan.  Dia menuturkan pengalamannya sebagai salah satu siswa yang terpecut untuk menjadi lebih baik karena sering dihukum oleh guru-gurunya.  DIa mengatakan, ketika masih sekolah dulu, digampar atau dipukul oleh guru adalah hal yang biasa.  Setelah dipukul pun dia juga tidak pernah dendam dengan sang guru.  Dia justru ingin menunjukkan pada gurunya, bahwa dia bisa berubah dan menjadi siswa yang membanggakan.

“Itu dulu.  Pukulan dari guru, selama itu tidak sampai membuat siswa hingga terluka parah masih bisa ditoleransi.  Siswa pun demikian.  Masih bisa mentolerir, apalagi jika itu memang kesalahannya.  Tapi kalau sekarang?  Tak ada guru yang berani karena sudah jelas sudah menyalahi aturan,” ujarnya.

Untuk itu, dia menuturkan, sekarang  para siswa bukan lagi dibentuk oleh para guru, namun mereka juga sudah dilatih untuk membentuk diri mereka sendiri.  Cara untuk membentuk diri mereka bukan melalui larangan atau hukuman, namun melalui bentuk lain, yakni pelajaran-pelajaran budi pekerti.  “Jadi tidak ada ceritanya siswa dihukum setelah melakukan kesalahan.  Yang ada adalah mereka dicegah agar tidak melakukan kesalahan.  Apabila mereka melakukan kesalahan, hukumannya berbentuk imbauan.  Tak ada lagi pukul-pukulan,” tutur Sugiyono.

Namun jika ditanya mana yang lebih baik, sistem pendidikan zaman dulu atau sekarang Sugiono sendiri tidak berani menghakimi salah satu.  Jika sistem pendidikan dulu buruk, maka tidak akan terlahir orang-orang hebat di zaman sekarang.  Dan sebaliknya, sistem pendidikan sekarang juga tidak bisa dikatakan salah, karena juga terbukti telah melahirkan banyak anak-anak berbakat dan berprestasi.  “Karena itu menurut saya, yang penting itu bukan sistem pendidikannya, namun kompetensi pengajar dan bagaimana kualitas para siswa itu sendiri,” jelasnya.

Hal ini dibenarkan oleh narasumber kedua, yakni Atrub.  Pria yang siang kemarin tampil rapi dengan jas abu-abunya mengatakan, kemajuan dan perkembangan suatu negara bukan bergantung pada SDA-nya, namun pada SDM-nya.  “Percuma memiliki SDA yang baik bila kualitas SDM buruk.  Kekayaan yang mereka miliki akan terbuang percuma,” tutur Atrub.

Atrub memberikan contoh Jepang.  Usai perang dunia ke-2, Jepang hancur total.  Tidak ada negara yang menyangka bahwa negara ini akan bisa bangkit lagi.  Namun jika dilihat kondisinya sekarang, maka layak jika Jepang digadang-gadang menjadi pesaing Amerika Serikat di perekonomian  dunia setelah China.  Dan semua itu tidak terlepas dari peran pendidikan. “Jika melihat jam belajar para siswa di Jepang, saya yakin siswa di Indonesia pasti tak sanggup.  Belum lagi ditambah dengan tekanan dari orang tua.  Mereka belajar hampir 18 jam dalam sehari.  Tak cukup di sekolah, maka mereka mengambil cram school, atau kalau di Indonesia lebih dikenal dengan bimbingan belajar,” ujarnya.

Meski hasilnya bagus, namun sistem pendidikan di Jepang ini juga memiliki kelemahan, yakni membuat siswa menjadi tertekan dan akhirnya berujung pada depresi.  Makanya tidak heran jika angka kematian akibat bunuh diri di Jepang sangat tinggi.  Hal itu tidak hanya didominasi oleh pelajar, bahkan juga orang-orang dewasa.

Sebagai penutup paparan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Siswanto mengatakan, dunia pendidikan di Kota Kediri saat ini terus melakukan terobosan-terobosan baru.  Tahun ini, Kota Kediri berhasil mengadakan ujian nasional online untuk seluruh sekolah negeri.  Padahal, tahun lalu, di Kota Kediri masih hanya ada dua sekolah penyelenggara.  “Tahun depan seluruh sekolah harus sudah melakukan sistem online,” tutur Siswanto.

Usai mendengarkan paparan, para wartawan yang hadir juga dengan antusias menanggapi paparan dari narasumber.  Berbagai usulan yang masuk, seperti harus diadakannya pendidikan mental dan entrepreneur untuk para siswa agar tidak tertinggal dengan negara-negara lain pun ditanggapi dengan positif oleh para narasumber.

Salah satu pendapat menarik datang dari Irwan Maftuhin, Koordinator Liputan Koran Memo, bahwa yang harus dididik itu bukan hanya siswanya, namun juga guru-gurunya.  Karena seperti kata orang, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.  Jadi seperti apa sosok seorang guru, juga akan mempengaruhi seperti apa siswanya.  “Kalau kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” ujar Irwan.  (della cahaya)


Sumber : koranmemo.com