logo.png

Pengusaha Kue Bolu Kediri Kewalahan Layani Permintaan


ANTARA News Jawa Timur

Pengusaha Kue Bolu  Kediri Kewalahan Layani Permintaan
Pengusaha kue bolu kering "Mak Plengeh" Kediri. (foto Asmaul Chusna)
 
 "Sekarang permintaan sudah tiga kali lipat. Ini kami terus produksi,"
 
Kediri (Antara Jatim) - Pengusaha kue bolu kering di Kediri, Jawa Timur, kewalahan melayani permintaan para pelanggan selama Ramadhan 2016.
     
"Sekarang permintaan sudah tiga kali lipat. Ini kami terus produksi," kata Mujayin (54), pemilik usaha bolu kering yang diberi merek "Mak Plengeh" di Kediri, Senin.
     
Ia mengatakan, rata-rata setiap hari membuat adonan kue ini memerlukan tepung 3 kuintal. Tepung diolah dengan telur, gula pasir, dengan bumbu lainnya dicampur menjadi satu. Setelah hancur, dicetak satu per satu di atas loyang dan dibakar.
     
Ia mengatakan, UMKM yang ia geluti ini sudah berjalan 12 tahun. Ia dengan istri awalnya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga akhirnya beralih mencoba menjadi wirausaha.
     
Mujayin mengatakan, awalnya ia mengemas dan menjualkan produk teman-temannya, namun karena ingin mengembangkan usaha akhirnya membuat makanan sendiri. Ia dengan istri memutuskan membuat kue bolu kering.
     
"Dulu awalnya hanya 5 kilogram tepung. Istri yang membuat, saya yang menjualkan dan alhmadulillah bisa berkembang hingga sekarang," katanya.
     
Ia pun tidak menyangka usahanya bisa terus bertahan hingga sekarang. Bahkan, ia pun kini dibantu 30 orang karyawannya membuat kue bolu ini. Padahal, dulu ia hanya mengerjakan dengan istri.
     
Mujayin juga mengatakan, permintaan kue bolu kering menjelang Lebaran 2016 ini sudah naik drastis, hingga 3 kali lipat dari permintaan di hari biasanya. Pelanggannya berasal dari berbagai tempat, hingga seluruh Indonesia. Ia pun juga beberapa kali mengirimkan jualannya ke Batam, serta Malaysia. 
     
Walaupun permintaan naik drastis, Mujayin mengatakan tetap memenuhi permintaan pelanggan. Ia sudah memaksimalkan produksi sejak empat bulan lalu, sehingga stok pun melimpah.
     
"Tapi, karena permintaan tinggi, jadinya hanya bisa memenuhi 55 persen permintaan saja, sisanya 45 persen belum bisa memenuhi," ujarnya.
     
Ia mengakui, banyak pelanggannya yang kecewa karena pesanannya tidak diberikan maksimal. Ia pun sudah meminta maaf, sebab masih terkendala dengan produksi. Ia selama ini masih menggunakan manual, bukan dengan mesin, sehingga dengan maksimal produksi pun belum bisa menutupi permintaan.
     
Namun, suami dari Anik Wahyuningsih (49) ini sudah bertekad, Ramadhan 2016 ini adalah terakhir untuk membuat secara manual. Ia menargetkan, pada tahun depan bisa membeli mesin, sehingga lebih besar lagi dalam memproduksi kue.
     
Terkait dengan persaingan usaha, pria yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman Kota Kediri ini mengakui banyak yang juga membuat kue bolu kering. Namun, ia pun tetap yakin jika rejeki sudah ada sendiri, sehingga ia pun tetap mengelola usahanya dengan maksimal. (*)
 

Sumber : antarajatim.com