logo.png

Pengusaha Kue Bolu Kering Kewalahan Layani Permintaan


 
Elevenia

Kue bolu kering

Kue bolu kering

 

REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI -- Pengusaha kue bolu kering di Kediri, Jawa Timur mulai kewalahan melayani permintaan para pelanggan guna memenuhi kebutuhan Ramadhan 2016. "Sekarang permintaan sudah tiga kali lipat. Ini kami terus produksi," kata Mujayin (54), pemilik usaha bolu kering yang diberi merek 'Mak Plengeh' di Kediri, Senin (6/6).

Ia mengatakan rata-rata setiap hari membuat adonan kue ini memerlukan tepung tiga kuintal. Tepung diolah dengan telur, gula pasir, dengan bumbu lainnya dicampur menjadi satu. Setelah hancur, dicetak satu per satu di atas loyang dan dibakar.

Menurut dia, usaha yang digeluti ini sudah berjalan 12 tahun. Ia dengan istri awalnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga akhirnya beralih mencoba menjadi wirausaha.

Mujayin mengatakan awalnya ia mengemas dan menjualkan produk teman-temannya. Namun karena ingin mengembangkan usaha akhirnya dia membuat makanan sendiri. Ia dengan istri memutuskan membuat kue bolu kering. "Dulu awalnya hanya lima kilogram tepung. Istri yang membuat, saya yang menjualkan dan alhmadulillah bisa berkembang hingga sekarang," katanya.

Ia pun tidak menyangka usahanya bisa terus bertahan hingga sekarang. Bahkan, ia kini dibantu 30 orang karyawannya membuat kue bolu ini.

Mujayin mengatakan, permintaan kue bolu kering menjelang Lebaran 2016 ini sudah naik drastis hingga tiga kali lipat dari permintaan di hari biasanya. Pelanggannya berasal dari berbagai tempat, hingga seluruh Indonesia. Ia pun juga beberapa kali mengirim produknya ke Batam, serta Malaysia.

Walaupun permintaan naik drastis, Mujayin mengatakan tetap memenuhi permintaan pelanggan. Ia sudah memaksimalkan produksi sejak empat bulan lalu sehingga stok pun melimpah. "Tapi, karena permintaan tinggi, jadinya hanya bisa memenuhi 55 persen permintaan saja, sisanya 45 persen belum bisa memenuhi," ujarnya.

Ia mengakui banyak pelanggannya yang kecewa karena pesanannya tidak diberikan maksimal. Ia pun sudah meminta maaf, sebab masih terkendala dengan produksi.

Usaha yang dirintis Mujayin masih menggunakan cara manual, bukan dengan mesin. Sehingga dengan maksimal produksi pun belum bisa menutupi permintaan. Namun, suami dari Anik Wahyuningsih (49) ini sudah bertekad, Ramadhan 2016 ini adalah terakhir untuk membuat secara manual. Ia menargetkan, tahun depan bisa membeli mesin, sehingga lebih memproduksi kue lebih banyak lagi.

Terkait dengan persaingan usaha, pria yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Makanan Minuman Kota Kediri ini mengakui banyak yang juga membuat kue bolu kering. Namun, ia pun tetap yakin jika rezeki sudah ada sendiri, sehingga ia tetap yakin mengelola usahanya dengan maksimal. 


Sumber : republika.co.id