logo.png

BI Kediri Siapkan Rp 5 Triliun Uang Lebaran


Tempo.Co

TEMPO.COKediri – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri menyediakan uang tunai Rp 5 triliun untuk kebutuhan Lebaran. Jumlah ini lebih besar dibanding tahun lalu agar tidak ada lagi penukaran liar di pinggir jalan.

Kepala Kantor Bank Indonesia di Kediri, Djoko Raharto, mengatakan jumlah uang yang disediakan untuk penukaran masyarakat tahun ini telah diperbanyak. Jika Lebaran tahun lalu BI Kediri menyediakan Rp 4,1 triliun, tahun ini sebanyak Rp 5 triliun dalam berbagai jenis pecahan. “Kondisi uangnya masih baru dan dijamin asli,” kata Djoko kepada Tempo, Selasa, 28 Juni 2016.

Penambahan jumlah uang Lebaran ini, menurut Djoko, didasarkan pada pertumbuhan ekonomi masyarakat yang terus membaik. Karena itu setiap tahun jumlah uang yang dikeluarkan Bank Indonesia terus bertambah. Di 2014, jumlah uang Lebaran yang disediakan sebesar Rp 3,45 triliun. Tahun 2015 dinaikkan menjadi Rp 4,1 triliun, dan di tahun ini digandakan menjadi Rp 5 triliun.

Pecahan itu terdiri atas nominal Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, dan pecahan Rp 2.000. Untuk satu pak pecahan 20 ribu nilainya Rp 2 juta. Sedangkan untuk satu pak pecahan Rp 10 ribu nilainya Rp 1 juta, satu pak Rp 5.000 nilainya Rp 500 ribu, dan satu pak Rp 2.000 nilainya Rp 200 ribu.

Masyarakat dibebaskan memilih pecahan mana yang dikehendaki dengan nilai nominal itu. “Jika jumlah uang yang hendak ditukar di bawah nominal yang disediakan, bisa patungan dengan lainnya,” kata Djoko.

Dia menambahkan, berbeda dengan tahun-tahun lalu di mana antrean penukar uang mengular sejak subuh di halaman kantor Bank Indonesia, sejak dua tahun lalu kantor ini mengerahkan loket keliling. 

Loket ini melayani penukaran dengan sistem jemput bola. Kendaraan ini keliling mendatangi pusat-pusat keramaian untuk memudahkan calon penukar uang. Petugas hanya membatasi jumlah uang yang ditukar maksimal Rp 3,7 juta per penukar.

Tidak hanya mengerahkan petugas Bank Indonesia, 53 lembaga bank umum di wilayah Kediri, Madiun, dan Ponorogo disiapkan untuk melayani penukaran ini. Djoko berharap masyarakat tidak lagi menggunakan jasa penukaran uang partikelir di pinggir jalan yang menarik keuntungan dari penukaran itu. 

Setiap Rp 100 ribu uang yang ditukar, masyarakat hanya mendapatkan pengembalian Rp 80 ribu saja. Praktek ini juga sempat mendapat sorotan dari ulama yang menganggapnya sebagai riba. Pengerahan kas keliling ini cukup efektif menekan jumlah pelaku penukaran uang di jalan. 

Menurut pantauan Tempo, keberadaan mereka telah berkurang dari tahun lalu meski tetap mendapat perhatian masyarakat yang enggan ke bank. “Daripada ribet harus antre di bank,” kata Lilik, seorang penukar uang di Jalan Sudanco Supriyadi, Kediri. 


Sumber : tempo.co