logo.png

Kediri Menuju Kota Ramah Anak


  • Kediri Menuju Kota Ramah Anak
 

KBRN, Kediri: Trenyuh, miris, marah, dan ingin ikut menghukum pelaku kejahatan anak dengan seberat-beratnya itulah perasaan yang berkecamuk di hati masyarakat Indonesia terutama di Kediri, Jawa Timur saat ini.

Bagaimana tidak, hingga sekarang (30/6/2016) masih terngiang di telinga penduduk di Tanah Air tentang kasus kekerasan dan pelecehan seksual pada tujuh anak oleh Sang Predator Anak, Sony Sandra (SS).

Dari jumlah itu, 3 korban berdomisili di Kota Kediri dan empat lainnya asal Kabupaten Kediri. Akibat perilaku menyimpang itu, SS divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri dan sembilan tahun penjara serta denda ratusan juta Rupiah oleh Pengadilan Negeri Kota Kediri.

Namun, tampaknya kasus SS belum memberikan efek jera terhadap oknum yang melakukan kejahatan serupa. Selasa siang (28/6/2016) pukul 12.30 WIB, warga Kediri kembali dikejutkan dengan ulah pelaku kejahatan anak yaitu pekerja swasta, bernama Sentot (30).

Apabila pada kasus SS, sejumlah korbannya masih hidup tetapi pada kasus Sentot di Jalan Singonegaran I Timur RT 01 RW 01, Kelurahan Burengan, Kota Kediri, dengan korban bernama Ahmad Habibi Hadinata yang berusia 2,5 tahun harus meregang nyawa.

Tak pelak, kesedihan mendalam dialami keluarga korban. Apalagi, si pelaku kejahatan anak di bawah umur itu ternyata orang dekat korban, yang tak lain pamannya sendiri. Di samping itu, tempat tinggal si korban dan pelaku juga diketahui sangat berdekatan. Bahkan, kondisi anak ketiga pasangan TW dan IA warga Kelurahan Burengan Kota Kediri ditemukan koma dengan mengeluarkan darah di bagian telinga saat berada di rumah pelaku.

Sementara itu, hal paling menyedihkan ketika hasil otopsi Rumah Sakit Bhayangkara Kediri menyatakan bahwa kepala korban bagian kiri pecah sekitar 14 sentimeter. Selain itu, juga ditemukan adanya luka bakar di dubur.Mendengar kejadian tersebut, Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar langsung datang ke rumah duka. Dia mengutuk keras pelaku yang tega memperlakukan anak di bawah umur dengan sangat kejam. Untuk menindaklanjuti hal itu dan mencegah kejadian serupa, dia akan membentuk satuan petugas (satgas) khusus hingga di tingkat rukun tetangga (RT).

"Kami segera membentuk satgas khusus untuk anak dan mereka akan bertugas melakukan pengawasan terhadap anak-anak di setiap RT. Lalu, berkewajiban memberi penyuluhan dan sosialisasi kepada orang tua," kata Abdullah Abu Bakar, di Kediri, Rabu (29/6/2016).

Dia meyakini, pembentukan satgas tersebut mampu memberikan perlindungan maksimal kepada anak-anak dari segala tindak kejahatan seksual. Pembentukan satgas itu merupakan tindak lanjut Instruksi Wali Kota Kediri Nomor 188.55/1/419.16/2016 tentang Gerakan Masyarakat Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GM AKSA).Pada masa mendatang, tugas satgas sekaligus mengambil langkah yang diperlukan untuk mencegah dan memberantas kasus kejahatan terhadap anak. Namun, hal itu tidak hanya dilakukan melalui GM AKSA.

Akan tetapi juga melibatkan peran masyarakat dan dunia usaha. Di lain pihak, satgas di tingkat kecamatan dan kelurahan juga mengajak unsur tokoh masyarakat, pemuka agama, TNI, POLRI, Babinsa, Babinkamtibmas, dan perwakilan Puskesmas.

"Satgas tersebut, juga mengawasi dan mengevaluasi penyelenggaraan perlindungan anak di tiap kelurahan. Lalu, mereka wajib membuat laporan kepada Wali Kota Kediri terhadap kasus yang menonjol setiap tiga bulan sekali," tegas pria yang akrab disapa Mas Abu itu.

Di sisi lain, saran dia, idealnya orang tua juga ikut peduli terhadap anak-anaknya. Misalnya dengan mengawasi pergaulan mereka sehingga tidak salah bergaul dan menjerumuskan anak. Kini, Pemkot Kediri juga sedang berupaya menciptakan suasana Kota Ramah Anak.

"Nantinya, di setiap sekolah di Kota Kediri akan ada tutor atau penyuluh sebaya. Jika tiap anak ada permasalahan tertentu maka dia bisa berkonsultasi dengan tutor itu dan bersama-sama mencari solusi terbaik," katanya.

Mengenai hasil fakta dari persidangan terdakwa SS di Kediri, terungkap bahwa sejumlah korban yang umumnya berusia anak-anak itu memiliki motif ingin merasakan gaya hidup serba mewah. Seperti, dapat uang cepat dan melimpah tanpa harus kerja keras.

Akibatnya, ketika anak memasuki masa remaja dan sedang labil, mereka mudah terpengaruh. Apalagi, jika ditawari dengan iming-iming materi yang sesuai impian mereka selama ini. Bahkan, merekapun rela terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Hal tersebut, dibenarkan orang tua korban SS, yakni SR. Sembari menangis tersedu-sedu, perempuan berusia 45 tahun itu, menceritakan, putri tunggalnya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) adalah salah satu korban kejahatan SS.

"Jika teringat kejadian itu, saya sangat sakit hati. Apalagi, putri saya itu harapan keluarga satu-satunya," katanya.Pemilik warung kopi itu menyadari, peristiwa yang dialami putrinya lantaran pihaknya tidak mampu memenuhi seluruh permintaan anaknya. Seperti, minta dibelikan baju baru dan telepon seluler.

"Saya menyesal, kurang peduli dan tak terlalu mengawasi pergaulan anak. Ini karena saya repot mengurus warung sehingga tidak tahu pasti siapa saja teman-temannya," katanya.

Saat mengunjungi rumah salah satu korban SS, di Kediri, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, mengaku, sedih dengan berbagai peristiwa yang dialami anak remaja di Kota Kediri. Dia menilai, permasalahan tindak kekerasan dan kejahatan anak merupakan masalah bersama.

"Kami minta kasus ini ditangani dengan baik dan dikawal hingga diputus pengadilan. Aparat kepolisian dan kejaksaan harus berusaha memperjuangkan hukuman maksimal kepada pelaku berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak," katanya.

Oleh sebab itu, dia mengajak, seluruh pihak ikut memberikan perhatian. Apalagi, selama menjalankan tugasnya baik dari Aceh maupun sampai Papua terlihat selalu ada permasalahan tindak kekerasan terhadap anak.

"Tolong, para orang tua lebih peduli terhadap tumbuh kembang anak-anaknya," katanya.

Penyebabnya, imbau dia, keluarga adalah cikal bakal bagaimana karakter anak bangsa terbentuk. Dari situlah, anak dididik sejak dini untuk mengenal Tuhan YME, melakukan segala perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA. Melalui keluarga, anak juga diajarkan untuk bisa mandiri, kuat, memiliki budi pekerti tinggi, serta mampu melindungi diri sendiri.

"Setiap hari, orang tua wajib memberi kasih sayang dan mau berkomunikasi dengan anaknya. Hal terpenting adalah perhatikan dengan siapa saja anak mereka berteman dan jangan sampai mereka salah pergaulan," katanya.

Senada dengan Yohana, Divisi Sosialisasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri, Ulul Hadi, mengatakan, betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap anaknya. Hal itu agar anak tidak terlibat dalam perbuatan negatif. Di Kediri, permasalahan hukum yang menimpa anak, didominasi kasus seksual. Secara total kasus anak yang berhadapan dengan hukum pada tahun 2015 mencapai 29 anak. Dengan 70 persennya adalah kasus kekerasan seksual, baik terlibat sebagai pelaku maupun korban.

"Kemudian, sisa 30 persennya karena keterlibatan dalam kasus pencurian maupun perkelahian. Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama," katanya.

Berdasarkan pengamatan LPA Kota Kediri, umumnya penyebab anak berhadapan dengan hukum adalah masalah komunikasi yang tidak tersalurkan dengan baik. Mereka biasanya dari latar belakang keluarga di mana orang tuanya bermasalah atau pengasuhan yang dilakukan oleh orang lain yang tidak kompeten. Dampaknya, anak tidak bisa leluasa berkomunikasi untuk pembentukan mental dan sikap yang baik.

"Akhirnya, anak lebih merasa nyaman menjalin komunikasi dengan orang lain. Jika temannya itu perilakunya baik tidak masalah tapi kalau buruk, maka anak itu bisa menjadi terkontaminasi menjadi buruk," katanya.

Oleh sebab itu, harap dia, para orang tua lebih bijak melakukan pengasuhan kepada anak-anaknya. Apalagi, pada zaman sekarang di mana media sosial semakin berkembang dan mempunyai dampak positif sekaligus negatif bagi pembentukan karakter anak bangsa.

"Idealnya, saat anak mengakses internet maupun media sosial ada pendampingan dari orang tua. Ajak mereka berkomunikasi tentang apa yang diketahuinya di media sosial," katanya.

Dia melanjutkan, bagi anak yang belum cukup umur ada baiknya membatasi kegiatan mereka mengakses internet. Kecuali, ketika si anak memang ada tugas dari gurunya untuk mencari materi tambahan di internet. Dengan cara pengasuhan orang tua yang bijak dan komunikatif, maka generasi muda di Tanah Air akan tumbuh sebagai masyarakat berpendidikan, bertanggung jawab, dan bermoral. (AC/AA)


Sumber : rri.co.id