logo.png

Launching Harmoni Kediri The Service City


Walikota Kediri ditengah-tengah acara lounching Harmoni Kediri The Service City. (foto: nanang)Walikota Kediri ditengah-tengah acara lounching Harmoni Kediri The Service City. (foto: nanang)
 
 
KEDIRI | duta.co - Kemeriahan acara Car Free Day (CFD) digelar setiap akhir pekan bertempat di Jalan Dhoho, dijadikan Pemerintah Kota sebagai lokasi launching program Harmoni Kediri The Service City. 

Walikota Kediri akrab disapa Mas Abu, berharap generasi muda untuk bangga dengan kota ini dan mampu mendatangkan sejumlah pengusaha untuk berinvestasi. “Dengan program ini bisa menjadikan kebanggaan khususnya anak muda dan kemudian mengajak sejumlah pengusaha untuk investasi di Kota Kediri. Kami telah memberikan kemudahan masalah perizinan,” jelas Abdullah Abu Bakar
 
Acara CFD digelar setiap Minggu, semakin meriah dengan digelarnya sejumlah panggung hiburan mampu menyedot antusias warga Kediri dan sekitarnya. Walikota Kediri yang hadir dalam acara CFD, meresmikan Duta Brand Community Kota Kediri, selanjutnya melakukan kampanye atas fasiltas dan kemudian diberikan pemerintah kota. 

"Brand tersebut senada dengan langkah Pemkot Kediri untuk menjadikan Kota Kediri sebagai kota pelayanan," ujar Mas Abu.
 
Mas Abu mengatakan Pemkot Kediri telah melakukan perbaikan pelayanan perizinan di Kota Kediri. "Sekarang hampir 100 persen ruangan kelurahan dimodifikasi seperti kantor perbankan. Ruangan yang nyaman ditunjang pelayanan masyarakat dituntut memuaskan," ujar Mas Abu. 

Bukan hanya di kelurahan, lanjut Mas Abu, perizinan di Kota Kediri juga semakin mudah karena menerapkan perizinan satu pintu. "Perizinan di Kota Kediri merupakan Perizinan terbaik ke-empat se-Indonesia. BPM telah menyederhanakan perizinan dari 153 menjadi 56 dan telah menerapkan perizinan satu pintu," jelas Mas Abu
 
Selain launching Duta Brand Community, para kader dan relawan Satuan Tugas Gerakan Masyarakat Anti Kekerasan Seksual Anak (Satgas GM AKSA), juga melakukan imbauan dengan membentang spanduk berjalan mulai dari halaman balai kota hingga perempatan Sumur Bor. 

“Kami juga bagikan selebaran dan memberikan penjelasan akan pentingnya memberikan perhatian yang lebih terhadap anak dan kaum perempuan. Bahwa di kota ini sempat terjadi kasus transaksi anak di bawah umur dan sodomi terhadap anak hingga korbannya meninggal, harus menjadi perhatian khusus,” jelas Hadi Kusuma, salah satu penggerak Lembaga Perlindungan Anak (LPA).
 
Sejumlah imbauan seperti tidak memamerkan anggota tubuh yang pribadi, melarang menyentuh tubuh anak di bagian sensitif dan yang utama membuka ruang komunikasi antara anak, orang tua dan guru. 

“Kami berharap kasus kekerasan seksual pada anak mampu terhindarkan,” imbuh Hadi.
 

Sumber : duta.co