logo.png

Kediri: Rokok Rp 50 Ribu Bisa Rugikan Pendapatan Cukai


Tempo.Co

Kediri: Rokok Rp 50 Ribu Bisa Rugikan Pendapatan Cukai  
Ilustrasi rokok. TEMPO/Subekti

TEMPO.COKediri – Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar meminta pemerintah mengkaji rencana kenaikan harga rokok. Dia mengatakan kajian harga rokok yang diwacanakan secara luas telah menjadi pro-kontra yang tidak produktif di masyarakat. Jika harga tersebut benar-benar diberlakukan, negara dipastikan tak akan mendapat untung sama sekali. “Padahal pemasukan terbesar pemerintah dari industri rokok,” katanya kepada Tempo, Rabu, 24 Agustus 2016.

Bila harga rokok Rp 50 ribu per bungkus, Abu Bakar memprediksi, hanya orang-orang bergaji di atas Rp 3 juta saja yang bisa menikmati. Perhitungannya seperti ini, dengan kebutuhan rokok satu bungkus per hari seharga Rp 50 ribu, kebutuhan dalam satu bulan Rp 1,5 juta.

Dengan kebutuhan sebesar itu, orang tersebut setidaknya harus menyisihkan sebagian gajinya setelah kebutuhan pokok sehari-hari. Ini berarti golongan masyarakat dengan penghasilan di bawah Rp 1,5 juta dipastikan tidak akan bisa mengisap rokok setiap hari. “Padahal upah minimum kota kita hanya di kisaran Rp 1,2 juta,” kata Abu Bakar.

Jika kondisi ini terjadi, dipastikan angka penjualan rokok akan menurun drastis dan berdampak pada ambruknya industri ini. Adapun PT Gudang Garam memberi pemasukan cukai kepada pemerintah pusat setiap tahunnya cukup besar. Pada 2015, nilai cukai yang diberikan perusahaan itu mencapai 30 triliun. Sementara mulai Januari 2016 hingga Juni ini sudah mencapai Rp 21 triliun.

Solusi yang ditawarkan untuk beralih profesi kepada para pekerja industri rokok dianggap tak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan dukungan dan anggaran besar dari pemerintah untuk mendorong mereka ke dunia wiraswasta melalui UMKM. Apalagi 70 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Kediri masih disumbang Gudang Garam.

Sementara itu, meski PT Gudang Garam sendiri telah menyatakan tidak akan ada kenaikan harga rokok, masyarakat tetap membicarakan hal itu setiap hari. Mereka khawatir hal tersebut akan benar-benar ditempuh pemerintah hingga memukul kehidupan masyarakat Kediri yang sebagian besar bekerja di PT Gudang Garam. Dengan jumlah karyawan mencapai 17 juta orang yang menghidupi 3-4 orang, jumlah kemiskinan yang akan terjadi tak terbendung.


Sumber : tempo.co