logo.png

Warung Lesehan di Bantaran Sungai Brantas Kediri Digusur Ini Keinginan Pedagang


Surya Malang

Warung Lesehan di Bantaran Sungai Brantas Kediri Digusur, Ini Keinginan Pedagang
 
SURYAMALANG.COM/Didik Mashudi
 
Warung lesehan di bantaran Sungai Brantas Kota Kediri, Rabu (26/10/2016). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Pengelola warung lesehan bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri berharap pemerintah sebelum melakukan penggusuran memberikan solusi. Jika tidak ada solusi bakal ada perlawanan.

"Tidak masalah kalau ada pihak yang bakal menertibkan keberadaan warung di bantaran Sungai Brantas. Namun jangan lupa solusi untuk kami apa," ungkap Yugo Nugroho, Ketua Paguyuban Pedagang Bantaran Brantas kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (26/10/2016).

Diungkapkan Yugo Nugroho, sebelumnya pihak Perum Jasa Tirta dan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas memang telah berkirim surat kepada paguyuban pedagang. Namun perkembangan terakhir pihaknya masih belum diberitahu.

Karena surat terakhir yang diterima pedagang dari Perum Jasa Tirta  Maret 2016. Pada surat itu tertera larangan pemanfaatan tanah bantaran Sungai Brantas untuk tempat usaha.

Di sepanjang bantaran Sungai Brantas yang ada di Kelurahan Mojoroto saat ini terdapat 52 warung lesehan. Keberadaan warung itu telah menghidupkan perekonomian masyarakat. Karena omzet yang diterima pedagang rata-rata Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per hari. Malahan jika malam Minggu omzetnya lebih banyak lagi.

Menyusul dengan rencana penggusuran juga telah dibahas bersama anggota paguyuban yang berjumlah 52 orang. "Kalau diizinkan kami meminta tetap bertahan. Dari berjualan itu yang menopang kebutuhan keluarga kami," ungkap Yugo Nugroho.

Sehingga jika warung bantaran digusur, masyarakat bakal kehilangan penghasilan. Termasuk solusi jika penggusuran tetap jadi dilakukan masih belum dibahas bersama masyarakat. Warga yang membuka warung lesehan seluruhnya masyarakat Kelurahan Mojoroto. "Solusi ini yang memang kami tunggu," tambahnya.

Warung lesehan bantaran Sungai Brantas mulai marak dibangun warga pada 2008. Masyarakat membangun bangunan semi permanen untuk warung dari bambu dan kayu. Malahan bangunan yang berukuran besar ada yang menghabiskan dana sekitar Rp 25 juta.

"Masyarakat sebenarnya telah beberapa kali mengajukan permohonan izin, namun tidak ada yang dikabulkan," tambahnya.

Yugo juga mengungkapkan pihak Jasa Tirta dan BBWS Brantas diminta tidak tebang pilih selama melakukan penertiban. Karena ada tanah bantaran yang dikelola pihak ketiga untuk lahan parkir. 
Sementara Basuki, Lurah Mojoroto menjelaskan, pihaknya segera melakukan sosialisasi rencana pembongkaran seluruh bangunan warung di bantaran Brantas.

Sementara langkah solusi pascapembongkaran diusulkan untuk membuka sentra kuliner di Kelurahan Mojoroto. Hanya saja lokasinya masih dilakukan survei.

"Sesuai sosialisasi Jasa Tirta tahun ini seluruh bangunan yang ada di bantaran Sungai Brantas bakal dibongkar semua," jelasnya.

Sebelumnya Satpol PP Pemkot Kediri telah membongkar bangunan Cafe Joyoboyo yang ada di Jl Inspektur Brantas. Bangunan dermaga Joyoboyo bakal dikembalikan sesuai fungsinya semula untuk prosesi acara larung sesaji.


Sumber : suryamalang.tribunnews.com