logo.png

Pasar Pesantren: Tidak Lagi Jadi Sumber Macet


Pasar Pesantren: Tidak Lagi Jadi Sumber Macet

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEDIRI KOTA – Proyek rehab Pasar Pesantren telah rampung. Setelah perbaikan, suasana tempat transaksi tradisional itu menjadi tertib dan bersih. Tak hanya itu, pendapatan asli daerah (PAD) pun mengalami kenaikan meski belum signifikan.

Tambir, ketua RT/RW 11/02 Kelurahan Pesantren, menjelaskan, sebelumnya kondisi pasar sangat kumuh. Sehingga para pedagang lebih suka berjualan di jalanan depan pasar. Hal ini sangat mengganggu mobilitas masyarakat sekitar. Banyak yang mengeluhkannya.

“Dulu saya sering diprotes warga karena kondisi yang demikian,” terang Tambir kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Pria yang dulu bekerja sebagai sopir itu kemudian meminta pedagang berjualan di dalam pasar. Namun tidak ada yang mau. Selain karena tempatnya becek dan bau, dagangan di dalam pasar menjadi sepi. “Jelas menolak semua karena banyak yang tidak laku,” tambahnya.

Makanya Tambir mengusulkan agar pasar diperbaiki. Sehingga layak untuk tempat berjualan. Tak hanya itu, ada pula beberapa rumah liar yang berada di pojok areal pasar. Karena memang tidak memiliki hak pakai, kini rumah tersebut sudah digusur. “Peruntukan wilayah sini hanya untuk berdagang bukan untuk tempat tinggal,” katanya tegas.

Namun meski suasana lebih bersih dan rapi, tidak serta merta para pedagang mau menggunakannya. Mereka tetap takut dagangan mereka tidak laku. Makanya Tambir dengan bantuan satpol PP menindak tegas yang tidak berjualan di dalam pasar atau pergi ke tempat lain.“Masuk satu ya harus masuk semua biar adil,” tambahnya kepada wartawan koran ini.

Kapasitas pasar yang selesai dibangun pada Oktober 2015 tersebut sekitar 103 pedagang dan 14 kios berada di depan pasar. Namun hingga saat ini baru ada sekitar 60 pedagang. Masing-masing mendapatkan lapak seluas 1 x 2 meter.

Sebagian menggunakan lebih dari satu lapak. Meski demikian, masih banyak yang belum terisi. Sehingga ada peluang pedagang yang ingin memanfaatkan lapak di dalam pasar. “Pedagang dalam pasar hanya perlu membayar retribusi Rp 1.000 per hari,” ungkap Tambir.

Selain itu, pedagang juga diminta membayar listrik dan air sebesar Rp 3 ribu per bulan. Uang tersebut untuk operasional dan perawatan pasar. Salah satunya, membeli alat kebersihan, lampu, maupun kebutuhan toilet, seperti sabun dan alat pembersihnya. “Ada yang untuk bayar pulsa listrik, air, maupun kebutuhan operasional lainnya,” jelas Tambir.

Diketahui PAD juga mengalami kenaikan meski belum signifikan. Pada 2015 yang masuk ke kas daerah sekitar Rp 32,7 juta. Sedangkan tahun ini, sampai Oktober sekitar Rp 33 juta.

Lurah Pesantren Ali Imron menjelaskan, tujuan rehabilitasi pasar adalah untuk memperlancar aktivitas perekonomian warga. Selain itu juga agar tak mengganggu aktivitas warga sekitarnya. “Ada banyak intangible benefit yang didapat,” urainya.

Sedangkan untuk PAD, Ali tidak memberi target tinggi. Karena fokusnya adalah pertumbuhan ekonomi masyarakat dahulu. Jika nanti pasar semakin berkembang, PAD bisa ditingkatkan dengan sendirinya. “Ini kan belum stabil. Banyak lapak yang belum terisi,” pungkasnya. 


Sumber : radarkediri.jawapos.com