logo.png

Wali Kota Minta Masjid jadi Pusat Pendidikan Karakter


ANTARA News Jawa Timur

 Wali Kota Minta Masjid jadi Pusat Pendidikan Karakter
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar (baju putih) saat menghadiri peresmian pembangunan sebuah masjid di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (14/1). (foto Asmaul Chusna)
 
 Sebetulnya, revolusi mental yang paling bagus di masjid. Untuk memperbaiki moral, tidak perlu jauh-jauh. Sebenarnya bisa di rumah, sekolah, tapi yang utama di masjid.
 
Kediri (Antara Jatim) - Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar meminta agar masjid menjadi pusat pendidikan karakter, sebagai upaya mendidik moral anak bangsa agar lebih santun.
     
"Sebetulnya, revolusi mental yang paling bagus di masjid. Untuk memperbaiki moral, tidak perlu jauh-jauh. Sebenarnya bisa di rumah, sekolah, tapi yang utama di masjid," katanya saat peresmian masjid di Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu.
     
Ia mengatakan, agama harus menjadi dasar untuk anak-anak. Di masjid bisa diisi dengan beragam kegiatan keagamaan. Anak-anak dilatih mengaji serta beragam kegiatan lainnya. Program itu juga bagian dari revolusi mental, seperti kebijakan dari pemerintah pusat.
     
Ia mencontohkan, orang yang terlibat penyalahgunaan narkoba, maupun kenakalan lainnya jika dasar agamanya kuat, maka ia bisa kembali ke kehidupan awalnya dengan kuat.
     
"Yang terkena narkoba, jika dasar agamanya kuat, rehabilitasi juga akan semakin mudah," ujarnya.
      
Wali Kota menambahkan, jika dasar agama anak-anak kuat, maka mereka juga akan lebih kuat menghadapi beragam masalah. Ia mencontohkan, beberapa negara maju misalnya di Jepang, negaranya kuat, tapi angka bunuh diri juga kuat. 
     
Ia berharap, masjid menjadi sekolah utama sebagai pendidikan karakter. Dengan pendidikan yang diberikan para guru, anak-anak dilatih menjadi anak yang lebih santun, menghargai orang lain, serta menghormati yang lebih dewasa.
     
Ia pun meminta, agar masyarakat mengabaikan segala bentuk isu yang hanya memecah belah, dan lebih mengutamakan silaturahmi antarsesama. Hal itu sebagai upaya agar masyarakat selalu bersatu dan dijauhkan dari segala upaya memecah belah.
     
"Saya berharap, jadikan anak-anak yang salih. Jika tidak salih, maka percuma anak-anak diberikan telepon seluler, komputer, disekolahkan tinggi-tinggi jika orangtua meninggal tidak didoakan. Jadi, masukkan unsur agama pada anak yang kita cintai," ujarnya. 
     
Sementara itu, Kholifi Yunon, yang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid itu mengaku, pihaknya berharap tanah tersebut bisa bermanfaat dan ke depannya bangunan yang dibangun juga bisa digunakan orang banyak.
     
"Kami berharap, ini semua bermanfaat," katanya. 

Sumber : antarajatim.com