logo.png

Dua Seniman Kediri Ungkap Terima Kasih dengan Karya


Dua Seniman Kediri Ungkap Terima Kasih dengan Karya

MINGGU, 15 JAN 2017 20:46

KREATIF: Dua seniman Kediri, Dodoth F. Widodo Putra dan Siswanto.

KREATIF: Dua seniman Kediri, Dodoth F. Widodo Putra dan Siswanto. (BINTI NIKMATUR/Radar Kediri/JPG)

 

Berbagai gambar yang mengedukasi dapat dinikmati di kampung mural Kediri. Mulai mural bertema Jawa hingga nasional bisa ditemukan di sana. Penggagas ide lukisan-lukisan yang menarik tersebut adalah seniman senior di Kediri.

BINTI NIKMATUR ROSIDAH, Kediri

JUMAT (13/1) sekitar pukul 10.00, matahari sudah menebar terik di seluruh pelosok kota. Meski menyengat, terik matahari tidak menyiutkan niat beberapa orang yang menikmati lukisan nan elok di sepanjang jalan masuk Gang Bendon 1, Jalan Kusuma Bangsa, Banjaran, Kecamatan Kediri Kota, Kediri. Orang-orang sering menyebutnya kampung mural, kampung penuh dengan lukisan.

Di pintu masuk gang, pejalan kaki atau pengendara sepeda motor disuguhi gambar dolanan ala Jawa yang mulai punah. Juga tulisan-tulisan aksara Jawa sebagai pengingat bahwa Kediri merupakan suku Jawa.

Di sepanjang jalan masuk tidak ada dinding kosong, hampir seluruhnya digambar dengan tema-tema yang menarik. Ada gambar Pandawa Lima dengan perawakannya yang khas, mulai Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Bahkan, di sisi tembok lain ada wajah macan putih detail dengan kuku dan taringnya yang mengaung. Juga tatapan mata yang tajam melihat ke depan. Jika ditelusuri, pada lambang macan itu, terdapat tulisan underground, gerakan bawah tanah. Itulah simbol yang dimaksud si pelukis.

Melipir ke gang sayap warna biru, belok ke kiri, wartawan koran ini dipersilakan masuk dengan ramah ke rumah minimalis berbentuk L, ukuran rumah tersebut sekitar 4 x 8 meter. Ya, tuan rumah itulah yang menjadi penggagas awal mula adanya kampung mural. Tentu tak sendiri, bersama rekan taman kanak-kanaknya, dia mendesain serta melukis dinding kampung mural dengan apik.

Dodoth F. Widodo Putra, 40, dan teman masa kecilnya Siswanto, 40, asyik berbincang di lantai ruang tamu. Sambil berbincang, pria yang biasa dipanggil Dodoth tersebut juga tengah melukis sepeda kuno dengan tugu di sampingnya, beralas kertas A3. Beberapa cat air dan kuas berserakan di samping kertas, ada biru, merah, dan beberapa cat air warna lainnya. Meski tengah melukis, dua seniman itu sangat antusias menceritakan terbentuknya ide melukis di kampung tersebut.

’’Memang dari awal saya ingin menggambari kampung ini sebagai wujud cinta saya kepada tanah kelahiran. Lalu, saya konsultasikan ke Sis, tema apa yang menarik agar seni mudah dipahami orang awam yang tidak begitu mengenal seni,’’ ujar Dodoth, alumnus seni rupa salah satu universitas di Yogyakarta itu.

Sis, partnernya sejak kecil, pun memberikan beberapa tema yang menarik. Di antaranya, edukasi, nasional, dan Jawa. Akhirnya, mereka sepakat dengan tema tersebut. Mereka berharap tema-tema itu lebih mudah dipahami warga kampung maupun pejalan kaki yang berkunjung.

’’Misalnya, akhir-akhir ini sedang hangat perpecahan di Indonesia, ya kami menggambar Pancasila. Sengaja sila keempat dan kelima dikosongi untuk melatih ingatan masyarakat umum terhadap Pancasila. Ternyata benar, banyak yang keliru membedakan sila keempat dan kelima,’’ jelas Sis, alumnus manajemen di salah satu universitas di Kediri.

Unsur Jawa banyak digambar di sisi-sisi tembok. Misalnya, dakon, dolanan ala Jawa zaman dulu yang mulai punah. Mereka sengaja menggambarnya agar anak-anak sekarang bertanya kepada orang tuanya. Akhirnya, para orang tua akan bernostalgia dengan mainan zaman dulu.

’’Kami juga memberikan tulisan aksara Jawa di samping gambar. Diharapkan, selain menikmati gambar, mereka turut mengingat aksara Jawa yang sekarang hampir dilupakan orang Jawa,’’ ungkap Dodoth dengan mengernyitkan dahinya.

Kali pertama menggambar dinding, mereka minta persetujuan yang empunya dinding dengan menyodorkan desain gambar yang akan dilukis. Lalu, pada 8 Maret 2016, mereka mulai memberanikan diri untuk menggambar. Awalnya hanya satu tembok, tetapi warga menyukai. Akhirnya, hampir seluruh tembok kosong digambari.

’’Sengaja tidak bilang RT atau RW, khawatir mereka menganggap kami pelukis vandal, lukisan yang terkesan mengotori seperti di jalan-jalan itu. Akhirnya kami nekat menggambarnya, mulai tengah malam sampai sebelum subuh,’’ ujar Doboth lantas tertawa.

Sejatinya, mereka banyak berharap lewat karya seni itu, selain atas dasar cinta kepada tanah kelahiran, Kediri. Mereka ingin seni di Kediri semakin mengangkasa. Pasalnya, mereka melihat begitu banyak muda-mudi Kediri yang memiliki talenta besar terhadap seni.

’’Sebenarnya harapan kami ya membesarkan seni di Kediri seperti kota-kota yang terkenal dengan seninya, Solo, Bali, atau Yogyakarta. Kami yang membuka jalan dan muda-mudi Kediri yang akan melanjutkannya,’’ ujar Sis, lalu sedikit melebarkan senyumnya.

Mengenai cat, mereka tidak pernah mengeluhkannya. Uang hasil kerjalah yang mereka pakai untuk membeli cat. ’’Kami tidak menolak jika diberi bantuan, tapi lebih baik langsung pada bahannya, cat. Jangan membantu dengan uang, kami akan menolaknya,’’ tuturnya.


Sumber : jawapos.com