logo.png

Dihujani Pertanyaan Warga Walikota Kediri Mas Abu Siap Jadi Pelayan Masyarakat


KOPI TAHU: Acara Kopi Tahu bersama Walikota Kediri Mas Abu di Halaman Masjid Al Huda Ngadirejo (duta.co/nanang)

 

KEDIRI | duta.co – Beragam persoalan masyarakat disampaikan perwakilan warga Kelurahan Ngadirejo Kecamatan Kota, saat digelar acara Kopi Tahu Bersama Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar atau yang dipanggil Mas Abu di Halaman Masjid Al Huda. Menghadapi permintaan dan keluhan, Walikota Kediri, Mas Abu mengaku siap menjadi pelayan masyarakat.

“Saya sudah turun sendiri  bersihkan sungai, ingatkan PKL berjualan sesuai aturan jam berdagang, selalu berkomunikasi dengan Kapolres atas maraknya balapan liar. Saya hanya berharap, mari kita guyub rukun dan bekerjasama menyelesaikan permasalahan dengan tidak saling menyalahkan,” jelas Mas Abu, sebutan akrab orang nomor satu di Pemerintah Kota Kediri.

Terasa spesial, acara kopi tahu digelar, Selasa malam (14/3/2017), halaman masjid Pondok Pesantren Al Huda dipenuhi warga mengikuti program bincang ringan memecahkan solusi yang digagas Walikota Kediri. Diantaranya topik banjir, balapan liar, permodalan usaha kecil hingga penjelasan terkait penggunaan anggaran Prodamas, disampaikan jelas dengan suasana keakraban.  Mas Abu mengaku terus menginggatkan pejabat di satuan kerja agar turun ke jalan atas pengaduan atau keluhan warga.

“Memang setiap permasalahan tidak harus seketika terselesaikan. Ada kalanya dijadikan bahan kemudian dipecahkan bersama. Namun pemerintah kota tidak bisa berjalan sendiri dan selama ini warga Kota Kediri dapat bekerjasama. Buktinya setiap kegiatan selalu dilakukan dengan kerja bakti bersama,” jelas Mas Abu.

Seperti permasalahan banjir warga di kawasan Sungai Kresek, Mas Abu beberapakali bersama warga membersihkan sampah. “Namun masih ada, warga yang tidak sadar dan membuang sampah ke sungai,” jelasnya.

Menyikapi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kini marak memenuhi trotoar, jajaran Satpol PP terus berupaya menginggatkan untuk mengikuti aturan jam berjualan dan tidak seenaknya menggunakan trotoar maupun tepi jalan untuk berjualan.

“Seperti kasus di depan SMAK Agustinus, ada pedagang yang memasang atap hingga menjorok ke jalan. Akhirnya jatuh korban, atas kejadian itu, kami berharap kesadaran para pedagang untuk mengikuti aturan telah ditetapkan,” imbuh walikota.

Terkait permodalan, ternyata warga Ngadirejo tidak tahu bahwa pemerintah kota menggelar program permodalan dengan bungga terendah se – Indonesia. “Bukan hanya se – Indonesia, tapi sedunia,” tegas Mas Abu. Dengan maksimal modal pinjaman Rp. 25juta dengan bunga 4% setahun, tentunya dengan jaminan, tentunya tidak ditemukan di kota atau negara luar.

“Bila ingin tanpa jaminan, pemerintah kota melalui Dinas Koperasi UMKM mengagas koperasi RW. Berdasarkan data kami, di Ngadirejo ini telah ada 4 koperasi RW, yang sisanya 8 RW segera membentuk dan nanti mengajukan permodalan,” jelas Walikota Kediri yang terus melakukan terobosan.


Sumber : duta.co