logo.png

Wali Kota Tegaskan Kediri Berbenah Jadi "Smart City"


ANTARA News Jawa Timur

Wali Kota Tegaskan Kediri Berbenah Jadi
Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar (baju putih) dalam acara dialog ekonomi yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Jawa Timur, Kamis (30/3). (foto istimewa )
 
 "Pemerintah Kota Kediri telah menyederhanakan izin dari 153 izin menjadi 56 saja. Lalu kami juga punya perizinan online, jadi ketika mengurusnya tidak perlu datang ke kantor perizinan, namun cukup melalui 'Smartphone," 
 
Kediri (Antara Jatim) - Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar menegaskan Kota Kediri, Jawa Timur, terus berbenah, sebagai upaya memperbaiki pelayanan agar bisa menjadi kota lebih baik, sehingga ke depannya bisa menjadi bagian dari "Smart city".
     
"Pemerintah Kota Kediri telah menyederhanakan izin dari 153 izin menjadi 56 saja. Lalu kami juga punya perizinan online, jadi ketika mengurusnya tidak perlu datang ke kantor perizinan, namun cukup melalui 'Smartphone," katanya dalam acara dialog ekonomi di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Jawa Timur, Kamis.
     
Ia mengatakan, kemajuan teknologi tidak dapat dihindari. Bahkan, peran yang diberikan terkait dengan digital juga sangat luar biasa, dalam berbagai macam sektor. Selain di pelayanan, pemerintah juga mendorong agar UMKM di Kediri juga memanfaatkan kemajuan teknologi untuk usaha mereka.  
     
Pihaknya juga menyebut, selain perbaikan pelayanan di perizinan, juga mempunyai aplikasi untuk memantau arus lalu lintas di Kota Kediri, yang dipantau lewat komputer. Seluruh aktivitas masyarakat di jalan raya, terutama di persimpangan bisa jelas terlihat. 
     
Pihaknya juga terus berupaya untuk membenahi sistem di kota ini, agar menjadi lebih baik. Pelayanan di berbagai sektor diperbaiki, sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik.
     
Sementara itu, Inisiator "Smart city" Suhono Harso Supangkat menyebut untuk menjadi bagian dari "Smart city, seluruh sektor seharusnya bisa terintegrasi dengan baik.
     
Ia menyebut, untuk menjadi bagian dari "Smart city", setidaknya harus mempunyai nilai 80-100. Angka itu adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya. Selama ini, dari kota di Indonesia yang diteliti, rata-rata mendekati 60.
     
"Jadi, masih berusaha untuk mengintegrasikan. Kalua membangun masing-masing sektor bisa, tapi begitu mengintegrasikan belum terlaksana," katanya.
     
Pria yang juga guru besar Kampus ITB itu juga mengatakan, masalah untuk integrasi itu bukan hanya menjadi tantangan untuk Kota Kediri, menuju "Smart city", melainkan seluruh kota di Indonesia.
     
Bahkan, sistem itu dinilai sulit untuk dilaksanakan. Namun, ia tetap memberikan masukan agar Kediri bisa tetap optimistis berbenah menjadi kota lebih baik, dengan sistem yang bisa lebih terintegrasi dari berbagai sektor maupun instansi.
     
Dalam acara tersebut, selain dihadiri Inisiator "Smart city" Suhono Harso Supangkat, juga nara sumber lainya, yaitu dari kementerian perdagangan, praktisi, maupun dari Bank Indonesia. 
     
Acara itu melibatkan para pengusaha, perbankan, serta pelaku ekonomi lainnya di keresidenan Kediri. Acara tersebut juga berlangsung dua hari, yaitu 29-30 Maret 2017, di kantor BI Kediri. 

Sumber : antarajatim.com