logo.png

BPBD Kediri Ajarkan Siaga Bencana Sejak Dini


ANTARA News Jawa Timur

BPBD Kediri Ajarkan Siaga Bencana Sejak Dini
Kepala BPBD Kota Kediri Syamsul Bahri. (foto Asmaul Chusna)
 
 Kami melibatkan anak-anak TK dan PAUD dalam sosialisasi ini. Usia TK memori bagus, usia keemasan, sekali dapatkan ilmu lekat sampai dewasa
 
Kediri (Antara Jatim) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPB) Kota Kediri, Jawa Timur, mengajarkan antisipasi bencana sejak dini kepada masyarakat, utamanya pada anak-anak.
     
"Kami melibatkan anak-anak TK dan PAUD dalam sosialisasi ini. Usia TK memori bagus, usia keemasan, sekali dapatkan ilmu lekat sampai dewasa," kata Kepala BPBD Kota Kediri Syamsul Bahri dalam acara sosialisasi potensi kebencanaan pada anak dan remaja di Kediri, Rabu.
     
Ia mengatakan, kegiatan itu bagian dari peringatan hari kesiapsiagaan nasional. Dalam kegiatan tersebut, selain diberikan paparan secara lesan, anak-anak juga diajak ikut simulasi seperti gempa, pemadaman api, hingga "water rescue" yang merupakan suatu teknik pertolongan atau evakuasi yang dilakukan di air.
     
Simulasi penanganan kebakaran dilakukan, sebab di Kota Kediri  beberapa kali terjadi musibah kebakaran. Sementara untuk banjir juga demikian, sebab beberapa kali juga terjadi banjir.
     
"Simulasi ini kami kenalkan, karena di usia mereka juga rentan terjadi bencana. Jadi, kami berikan pengetahuan, edukasi sejak dini agar paham tentang bencana dan risikonya," katanya. 
    
Syamsul menambahkan, BPBD Kota Kediri sudah memetakan daerah yang berpotensi terjadi bencana, misalnya banjir. Hal itu berdasarkan evaluasi beberapa kejadian banjir sebelumnya.
     
Namun, untuk kebakaran, ia menyebut hal itu bisa terjadi di mana saja. Salah satu penyebabnya, karena pemilik tidak paham menggunakan kompor gasnya ataupun ada kendala karena bocor.
     
Selama 2017, setidaknya terjadi 15 kali bencana, baik angin puting beliung, banjir, hingga kebakaran. Dari bencana itu, baik rumah warga maupun fasilitas umum lainnya terdapat kerusakan.
     
Untuk mengurangi risiko bencana, ia juga meminta masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan membangun kewaspadaan terutama di titik-titik potensi bencana, misalnya di wilayah yang dilalui aliran sungai. Terlebih lagi saat ini memasuki perubahan cuaca yang ekstrim seperti saat ini.
     
Berdasarkan hasil kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jumlah jiwa korban bencana dengan kategori sedang hingga tinggi yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia mencapai 71.740 jiwa. 
     
Bahkan, sepanjang 2016, sudah terdapat 2.342 kejadian bencana dimana 92 persen bencana didominasi banjir, longsor, serta puting beliung. 
     
Dalam acara tersebut, selain diikuti anak-anak TK dan PAUD se-Kota Kediri, juga diikuti peserta dari penyandang disabilitas serta perwakilan dari mahasiswa. Acara ini digelar di bantaran Sungai Brantas, yang lewat di Kota Kediri. 

Sumber : antarajatim.com