logo.png

Firnanda Junizar Nurhaliza Siswi SDN Banjaran 4 Peraih Emas IMO Nasional


Foto Kediri.City.

Senang Latihan Soal Olimpiade Matematika Online.

Agustus 2016 nanti, Firnanda Junizar Nurhaliza harus siap berlaga dalam International Mathematics Olympiad (IMO) di Hongkong. Ini setelah ia berjaya meraih medali emas IMO tingkat nasional, 9 April silam. Bagaimana persiapannya?

Rabu (15/6) siang itu, memasuki halaman SDN Banjaran 4 Kediri, nyaris tidak ada aktivitas. Maklum dalam suasana Ramadan itu, sekolah memang libur. Namun demikian, di ruang pramuka, Jawa Pos Radar Kediri sudah ditunggu seorang guru dan siswinya.

“Mari silakan masuk Mas, kebetulan kami baru selesai bimbingan,” ujar Anifatul Hidayah, guru matematika SDN Banjaran 4. “Maklum sepi, karena sudah liburan semester,” lanjutnya.

Siswi yang bersama Anif –panggilan Anifatul Hidayah –pun tampak semringah. Namanya, Firnanda Junizar Nurhaliza. Dia adalah siswi SDN Banjaran 4 yang baru saja meraih medali emas di ajang International Mathematics Olympiad (IMO) awal April 2016 lalu.

Kemampuan Nanda–sapaan akrab Firnanda –dalam ilmu berhitung ini memang unggul. Kepada koran ini, ia lantas menceritakan pengalamannya ketika mengikuti kompetisi bergengsi tersebut.

“Hasil ini bisa saya dapat karena dukungan orang tua dan bimbingan guru,” ungkap siswi yang baru saja naik kelas VI SD tersebut. “Saya sering latihan mengerjakan soal,” imbuhnya.

Gadis yang berulang tahun tiap 18 Juni ini sangat menyenangi matematika. Baginya, matematika merupakan pelajaran yang mengasyikkan. “Saya paling senang dengan geometri,” ungkapnya.

Bakatnya dalam hal hitung-menghitung memang sudah tampak sejak dulu. Kali pertama terlihat oleh gurunya, Asri S. Tribasunu. Ketika memasuki kelas 2 SD, Nanda mulai aktif mengikuti kompetisi.

“Sejak kelas 4 Nanda mulai ikut lomba-lomba mewakili sekolah,” tutur Anif. Anak pertama dari tiga bersaudara ini rupanya juga rajin mencari event perlombaan.

Salah satu contohnya adalah IMO kemarin. Kala itu, Nanda masuk dalam 10 besar peraih medali emas tingkat nasional. “Saya mencari sendiri, browsing jadwalnya di internet,” kata gadis 12 tahun ini.

Di samping perlombaan yang ia cari sendiri, perlombaan melalui sekolah juga sering Nanda ikuti. Salah satunya, Olimpiade Sains Nasional (OSN), dalam kompetisi ini Nanda mewakili sekolahnya di tingkat Kota Kediri. Di sini dia berhasil mendapat juara II.

“Bukan Nanda namanya jika mudah putus asa,” urai Anif. Berangkat dari ketidakpuasannya hanya meraih juara II, Nanda berusaha mencari kompetisi terdekat yang akan diadakan.

“Hasilnya dia menemukan kompetisi IMO yang berlangsung 9 April lalu. Dalam olimpiade ini Nanda bisa mengerjakan 11 dari 20 soal, dan unggul dari ratusan siswa se-Indonesia,” papar Anif.

Tak hanya IMO, Nanda juga masih sempat mengikuti Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) di Bogor 15 dan 16 April lalu. Di kompetisi ini Nanda memperoleh penghargaan Honourable Mention (HM).

Atas raihannya di IMO, Nanda berhak untuk mengikuti IMO tingkat internasional. Rencananya akan dilangsungkan pada Agustus nanti di Hongkong. Oleh karenanya dia merasa perlu mendapat bimbingan lebih.

“Kalau untuk persiapan OSN dan IMO lalu, selama hampir tiga bulan Nanda bisa tiap hari bimbingan dengan saya,” kenang Anif. “Hal ini juga tak lepas dari bimbingan beberapa guru, di antaranya guru kelasnya, Pak Pratikno.

Juga Bu Nur Ida Utami dan Bu Elly yang sering memberi motivasi,” sambung Anif. Soal metode belajarnya, Nanda memaparkan, kerap belajar mandiri. Maksudnya, dia sering mengerjakan soal di luar pelajaran yang diterimanya di sekolah.

Yang biasa ia kerjakan adalah latihan soal olimpiade online. “Saya biasa belajar rutin tiap hari dari jam 16.00 sampai 18.00”, ungkap Nanda.

Sampai-sampai sang bunda kerap mengingatkan bahwa belajar itu penting, namun bermain juga jadi kebutuhan. Apalagi untuk anak seusianya. Putri pasangan Wahyudi Suwantoro dan Dinda Nathalia ini juga mahir bermain piano klasik.

Beberapa kali sempat diminta tampil di wisuda siswa dan acara Dinas Pendidikan Kota Kediri. Keseharian Nanda di sekolah pun bisa dibilang seperti kebanyakan murid lainnya. Hanya saja, ia sering dimintai bantuan teman-temannya dalam mengerjakan soal matematika.

“Kalau ada yang tanya saya bantu kasih tahu caranya,” papar penyuka nasi pecel tumpang ini. Ke depan siswi yang bercita-cita jadi dokter bedah ini ingin fokus menyelesaikan sekolahnya di SD Banjaran 4.

Tes seleksi anak cerdas dari salah satu SMP dan MTs negeri di Kediri sempat dia ikuti. Hasilnya, Nanda memenuhi kriteria karena menjadi salah satu yang terbaik. “Sayang karena masih kelas 5 maka otomatis belum bisa masuk,” pungkas Anif. (ndr)

sumber : http://radarkediri.jawapos.com/…/-senang-latihan-soal-olimp…