Gedung bioskop Garuda masih berdiri kokoh sampai sekarang. (Foto: Eko Arif S/JatimTIMES)
Gedung bioskop Garuda masih berdiri kokoh sampai sekarang. (Foto: Eko Arif S/JatimTIMES)

KEDIRITIMES - Berbagai kota di Indonesia tentu memiliki kenangan indah mengenai dunia perfilman. Salah satunya melalui gedung-gedung bioskop lawas dan tua yang memang menjadi sarana hiburan tersendiri bagi masyarakat sejak dulu. Namun seiring berkembangnya teknologi, gedung bioskop yang dulu dielu-elukan kini banyak yang mangkrak dan tak terurus.

 
 
 
 
 
 
 

Seperti halnya gedung bioskop Garuda yang terletak di Jalan Yos Sudarso, kawasan Pecinan Kelurahan Pakelan yang tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong dan berbatasan dengan Kali Brantas. Gedung bioskop Garuda yang pernah berjaya di era 80an itu kini hanya tinggal kenangan.

Menghadap ke arah selatan, bangunan gedung bioskop Garuda itu masih tampak kokoh. Namun sayang, bangunannya sudah tidak terawat dan tak terurus. Catnya pun mulai terkelupas, lumut menutup sebagian sisi dinding bangunan. Selain itu, karat menggerogoti besi-besi ornamen, pagar, dan fondasinya.

Meski tak sama dengan konstruksinya dahulu, tapi namanya masih jelas terpasang dan terdapat patung Garuda pada bagian atas muka gedung itu.

Gedung bioskop Garuda tersebut dulunya menjadi tempat andalan warga Kota Kediri untuk sekadar menikamti romantisme akhir pekan, atau sekadar kencan bersama kekasih. Setiap harinya, gedung bioskop tersebut memutar film-film unggulan, mulai dari box office, Bollywood hingga film buatan karya anak negeri. 

Kala itu di era 80an, bioskop menjadi satu-satunya hiburan rakyat yang paling dicari. Selain Bioskop Garuda, ada beberapa bioskop legendaris Kota Kediri  lain yang ramai didatangi, seperti Bioskop Jaya, Kencana, Sentral dan Pagora.

Menurut Abu Nur Arifin (49) yang sempat  menikmati masa-masa kejayaan bioskop legendaris itu, di Kota Kediri pada era 80an pernah beroperasi sedikitnya 5 gedung bioskop. Meski masing-masing memiliki klasifikasi dan karakteristik berbeda, namun gedung bioskop saat itu laku keras.

“Tontonan gedung bioskop diminati dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat,” kata pria yang juga seorang Babinsa di Kelurahan Pakelan tersebut.

Ia mengatakan, pemutaran film dilakukan pada 3 sesi, yakni pukul 17.00 WIB, 19.00 WIB dan 21.00 WIB. Ketika ada film baru yang lagi ramai, juga ada pemutaran tengah malam atau midnight.

“Bioskop Garuda itu salah satu bioskop untuk yang punya duit lebih mas, karena harga tiketnya cukup mahal zaman itu, seingat saya harga tiketnya sekitar Rp 350-an jika dikonversi ke nilai uang sekarang, nilainya sekitar Rp 35.000,” kata Abu Nur.

Selain menjadi pusat hiburan, bioskop Garuda ini juga menjadi lokasi mencari rezeki, terutama bagi para calo tiket yang menjual tiket lebih mahal dibanding harga asli.

Bioskop zaman dahulu adalah anomali bioskop zaman sekarang. Jika sekarang penonton tak boleh merokok di dalam bioskop, zaman dulu diperbolehkan.

"Ruangan pekat dengan asap rokok. Kami bebas udad udud di dalam ruangan sambil makan makanan yang dijual di kantin depan," kata dia.

Ditambahkan Abu Nur, dengan adanya 5 gedung bioskop di Kota Kediri saat itu membuat suasana kota bersahaja. Bioskop tempo dulu memiliki sistem marketing yang unik dan sangat berkesan di masyarakat. Publikasi film tersebut dilakukan berkeliling menggunakan mobil yang dilengkapi speaker toa.

“Saksikan film di bioskop Garuda Theater di bintang artis-artis ternama,” ungkapnya menirukan pengumuman film kala itu.

Dikatakan Abu Nur, gedung - gedung bioskop di Kota Kediri tersebut mulai gulung tikar satu persatu sejak memasuki tahun 2000an.

Pasca masa itu, sejumlah gedung bioskop ternama di Kota Kediri pelan-pelan berkurang. “Apalagi setelah internet mulai masuk di Kota Kediri, bioskop-bioskop itu kian punah,” bebernya.

Ketenaran Bioskop Garuda telah tersebar ke pelosok Kediri. Saat malam minggu atau tanggal merah, bioskop ini selalu dijejali ratusan penonton setianya. Film apa pun yang disuguhkan pasti dilahap. Beberapa genre film yang kerap diputar, seperti film India, Barat, dan tentu saja Indonesia.

Mungkin, bagi generasi sekarang banyak yang belum tahu kalau dulu gedung bioskop Garuda ini adalah gedung bioskop yang cukup terkenal pada masanya. Keberadaan gedung bioskop tersebut sempat menjadi idola, dan disambut hangat oleh masyarakat Kota Kediri.

Menonton bioskop saat itu menjadi budaya yang asyik dan menyenangkan. Iklim sosial politik masyarakat perkotaan menjadi kondusif, optimistis, dan inspiratif.

Bagi masyarakat yang sempat menikmati masa itu, jelas terasa bahwa mengingat gedung bioskop tempo dulu seperti ada romantisme masa silam yang hilang.