Kediri (Antaranews Jatim) - Pemerintah Kota(Pemkot) Kediri, Jawa Timur, memberikan bantuan pada seorang bocah berumur 10 tahun bernama Hanif Aufa Zaim, yang menderita penyakit gangguan darah yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh menyerang trombosif darah.

"Kami telah memberikan bantuan pengobatan kepada Hanif sejak 2014 sampai 2018. Bantuan pengobatan yang diberikan menggunakan Jamkesda," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Kediri, Apip Permana, di Kediri, Kamis.

Bantuan tersebut juga diberikan melalui Forum Kediri Peduli Sosial (FKPS) untuk biaya hidup keluarga penunggu pasien selama pengobatan di Surabaya.

Apip mengemukakan, informasi dari Kepala Dinas Kesehatan Kediri, dr. Fauzan Adima, penyakit gangguan darah yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh menyerang trombosif darah.

Pihaknya mengatakan, pada 2017, Pemkot Kediri telah memberikan bantuan pengobatan dengan skema Bansos di RS dr Soetomo Surabaya dengan biaya hidup sebesar Rp9 juta.

"Di 2018, Pemkot Kediri juga kembali memberikan bantuan, dengan menanggung biaya pengobatan dengan skema Jamkesda melalui biaya hidup sebesar Rp5,5 juta," kata Apip.

Sementara itu, Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar juga diketahui sering mengunjungi bocah tersebut. Tercatat, hingga tiga kali Wali Kota mengujungi Hanif di rumahnya, Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri. Wali Kota ingin memastikan secara langsung kondisi kesehatan bocah tersebut.

Selama ini, Hanif yang berusia 10 tahun tersebut terdaftar sebagai siswa SD Ngadirejo II kelas empat. Ia selama ini menderita penyakit gangguan darah (Immune Thrombocytopnik Purpure" -ITP) sejak berumur dua tahun.

Akibat kondisi tersebut, di bagian kepalanya ada nampak seperti berwarna hitam. Selain itu, bagian matanya juga terlihat bengkak.

Penyakit ITP rentan diderita oleh anak-anak usia 2-5 tahun serta orang dewasa usia 20-50 tahun. Perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Penyebab pasti dari ITP ini tidak diketahui. Namun, orang-orang yang menderita sakit ini bisa mengalami malfungsi pada sistem kekebalan tubuh sehingga mulai menyerang trombosit seolah-olah mereka adalah benda asing.

Antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh menempel pada trombosit, lalu menandai trombosit untuk dihancurkan. Kemudian, limpa yang membantu tubuh melawan infeksi akan mengenali antibodi dan turut menyingkirkan trombosit dari tubuh.

Gejala umum yang muncul antara lain perdarahan dan ruam kulit yang tampak seperti bintik-bintik merah (ruam petekie). Gejala lainnya seperti gusi berdarah, buang air besar yang disertai darah, menstruasi berkepanjangan, dan pendarahan hidung.

Selain itu, terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risik sakit ITP tersebut. Untuk wanita dua kali lebih berisiko mengembangkan ITP ketimbang pria.

Sementara, untuk infeksi virus, banyak anak-anak yang menderita ITP mengalami gangguan kesehatan setelah terinfeksi virus, misalnya gondok, campak, bahkan infeksi saluran pernapasan.