Kediri (Antaranews Jatim) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Jawa Timur, menyebut Kota Kediri mengalami inflasi sebesar 0,16 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,38 pada Oktober 2018, lebih rendah ketimbang inflasi September sebesar 0,20 persen.

"Inflasi Kota Kediri pada bulan Oktober 2018 dipengaruhi kenaikan dan penurunan indeks harga konsumen dari beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan menyumbang hingga 0,20 persen," kata Kepala BPS Kota Kediri Ellyn T Brahmana di Kediri, Sabtu.

Ia menambahkan, untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik sebesar 0,11 persen, kelompok sandang naik sebesar 0,24 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,21 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik sebesar 0,02 persen.

Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan naik sebesar 0,37 persen. Namun, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau justru pengaruhnya turun sebesar 0,01 persen,

Ia menambahkan, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi di Kota Kediri pada Oktober 2018 adalah bensin, kacang panjang, cabai merah, kelapa, kontrak rumah, emas perhiasan, daging sapi, beras, kol putih/kubis, dan ikan nila.

Sementara itu, juga terdapat sejumlah komoditas yang turut memberikan tekanan terbesar terhadap inflasi, yakni telur ayam ras, daging ayam ras, jagung muda, tomat sayur, bawang merah, kembang kol, apel, wortel, kentang, dan susu rendah lemak.

Untuk perbandingan inflasi, dari delapan kota sebagai penimbang inflasi di Jatim, tiga di antaranya mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi di Kota Kediri sebesar 0,20 persen, diikuti Surabaya 0,15 persen dan Sumenep 0,02 persen.

"Kota lainnya mengalami deflasi, yakni Banyuwangi 0,49 persen, Probolinggo 0,32 persen, Malang 0,31 persen, Madiun 0,12 persen, dan Jember 0,05 persen," ujar Ellyn.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar juga mengatakan, pemerintah kota juga berupaya keras untuk menekan inflasi. Kota Kediri diketahui pernah mengalami inflasi yang tinggi, namun belum ada langkah pasti untuk mengatasinya.

Namun, mulai tahun 2014, pemkot eksekusi di lapangan dengan mengajak seluruh pihak bekerja sama, baik pihak BI, BPS, bulog, petani, pedagang, dan lainnya guna menekan inflasi.

Ia juga mengatakan, Pemerintah Kota Kediri mempunyai beberapa program yang turut menyumbang dalam pengendalian inflasi, seperti di bidang pendidikan terdapat SPP dan seragam gratis untuk pelajar SD dan SMP, subsidi biaya pendidikan untuk SMA/SMK, membentuk tim add hoc pada saat kenaikan "administrered price" serta menjaga komunikasi publik yang baik.

"Memang harus ada intervensi. Kami intervensi pasar dengan operasi pasar, rutin monitoring pergerakan barang, ketersediaan stok dan harga. Kami juga ikut melayani, ikut jualan, tanya-tanya ke warga. Dengan begitu, paling tidak naiknya harga tidak `ugal-ugalan`," kata Mas Abu, sapaan akrab Wali Kota Kediri tersebut. (*)