Ilustrasi. ©2019 merdeka.com/imam buhoriMerdeka.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, memeriksa sejumlah sampel takjil di beberapa sentra penjualan pada 13 kecamatan. Dari beberapa sampel makanan yang diperiksa, petugas mendapatkan beberapa makanan mengandung formalin dan boraks.
Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Tangerang, Indri Bevy, mengambil ratusan sampel takjil di setiap sentra penjualan takjil di setiap kecamatan. Adapun sampel yang diambil di antaranya seperti soto mi, bakso, sempol, kerupuk kuning, cincau, pacar cina, kwetiau, cendol hijau dan hitam, lumpia dan jenis takjil lainnya.
"Pada hari pertama kemarin, hasilnya kita temukan beberapa kandungan formalin dan boraks. Di antaranya kandungan formalin yaitu pada mi kuning basah di soto mi, dan boraks pada cincau hijau dan kwetiau," kata Bevy dikonfirmasi, Kamis (7/4).
Dia menerangkan, pada pemeriksaan tahap pertama kemarin, dilakukan di lima kecamatan, mulai dari Kecamatan Larangan, Karang Tengah, Pinang, Batuceper dan Cibodas.
Pengambilan sampel takjil itu, untuk diperiksa dengan men-screening cepat sampel makanan guna mengetahui ada tidaknya kandungan kimia dan bakteri berbahaya dalam kandungan panganan takjil yang diperjual-belikan ke masyarakat.
Selanjutnya kata Bevy, para pedagang yang kedapatan menjual panganan takjil mengandung boraks atau formalin akan dilakukan tindakan persuasif.
"Bersama puskesmas, kecamatan dan kelurahan akan melakukan pembinaan dan edukasi kepada para pedagang yang bersangkutan. Dinkes akan mengedukasi bahaya terparah akan kandungan kimia yang mereka pakai. Selain itu, Dinkes juga akan memberikan pemaparan jenis-jenis bahan pengganti yang aman atau layak dikonsumsi oleh konsumen," terang dia.
Dinkes mengimbau masyarakat lebih cerdas dalam berbelanja takjil. "Jangan terpengaruh atau tergiur dengan warna yang terlalu cerah atau tekstur yang dirasa terlalu kenyal. Karena biasanya yang seperti itulah yang patut dicurigai," terang Bevy.